Showing posts with label personal development. Show all posts
Showing posts with label personal development. Show all posts

Friday, April 1, 2011

ARE YOU A PROBLEM SOLVER?

ARE YOU A PROBLEM SOLVER?

Ada 4 karakteristik sikap orang dalam menghadapi masalah :

1.   Putus asa
2.   Menyalahkan orang lain
3.   Burung unta
4.   Pemecah masalah

Untuk menjelaskannya, saya akan memberikan ilustrasi sebagai berikut:

Suatu hari seseorang berjalan-jalan di tepi sungai yang jernih airnya dan jauh dari keramaian, menikmati gemericik air dan sejuknya suasana. Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara orang minta tolong, dan ternyata suara itu datang dari hulu sungai.

Maka, hal yang akan dilakukan oleh orang tersebut, apabila orang tersebut bertipe :

Putus asa
Orang tersebut akan datang menghampiri orang yang minta tolong, lalu berkata, “Semoga Tuhan menolong anda. Kalau tidak ya, mungkin memang sudah waktunya, anda sabar saja, semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa anda, berdoa saja, mari saya bantu membacakan doa.”
Dalam kehidupan nyata, tipe putus asa, akan selalu merasa bahwa masalah yang dihadapi adalah takdirnya, jalan hidupnya, yang membuatnya pasrah tanpa berusaha dan cenderung putus asa. Dalam versinya dia yakin keadaan akan berubah kalau Tuhan menghendaki meski tanpa melakukan apa-apa. Mungkinkah?

Menyalahkan orang lain
Orang tersebut akan datang menghampiri orang yang minta tolong, lalu berkata, “Sudah tahu nggak bisa berenang, malah main-main ke sungai, sekarang gimana, hanyut kan? Makanya kalau nggak bisa berenang jangan sok berenang, nyusahin orang lain saja.”
Dalam kenyataan, orang dengan tipe ini pada akhirnya bisa membantu, bisa juga tidak. Namun, apapun tindakan yang akan dilakukannya selalu diawali dengan menyalahkan orang lain terlebih dahulu, sebelum benar-benar menyelesaikan masalah, dengan catatan kalau memang dia mau membantu. Sedangkan kalau sebenarnya dia tidak ingin membantu maka, dia hanya akan menyalahkan orang lain tanpa berbuat apa-apa.

Burung unta
Orang tersebut akan datang menghampiri orang yang minta tolong, setelah dilihatnya ternyata dia tidak kenal orang yang hampir tenggelam tersebut, dia berlalu sambil berkata, “Ah, bukan saudara saya, juga bukan tetangga saya, saya tidak kenal, saya nggak mau tahulah, nanti malah saya yang disalahkan kalau terjadi apa-apa dengan orang itu.”
Dalam dunia nyata, tipe burung unta, cenderung untuk menghindari masalah dan menunggu sampai ada orang lain yang menyelesaikan masalah tersebut. Tipe ini juga tidak berusaha untuk memberitahukan masalah yang terjadi karena dia takut terlibat dan memang tidak mau tahu selama tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri. Cari aman? Mungkin.

Pemecah masalah; ada 4 ragamnya :
1)    Orang tersebut akan datang menghampiri orang yang minta tolong dan berkata, “Kebetulan saya bawa buku belajar berenang, sebentar saya akan bacakan untuk anda, agar anda bisa menyelamatkan diri.”
2)    Orang tersebut akan datang menghampiri orang yang minta tolong dan langsung melompat ke sungai untuk menyelamatkannya, karena memang dia bisa berenang.
3)    Orang tersebut akan datang menghampiri orang yang minta tolong dan berkata, “Wah, saya tidak bisa berenang, tetapi sebentar, saya akan panggil bantuan, sambil menunggu bantuan, pegang akar pohon ini kuat-kuat.”
4)    Orang tersebut akan datang menghampiri orang yang minta tolong dan langsung melompat ke sungai untuk menyelamatkan orang tersebut, dan setelah terjun dia baru sadar bahwa..................diapun tidak bisa berenang.

Dalam kehidupan nyata, tipe pemecah masalah juga banyak ragamnya.
Tipe pertama adalah orang yang berusaha memecahkan masalah sesuai aturan dan teori berlaku. Tipe ini terkesan lamban dan teoritis, tetapi terkadang bagus untuk pembelajaran orang lain. Hanya terkadang tipe ini kurang mempertimbangkan waktu.

Tipe kedua adalah orang yang cenderung reaktif dan berusaha keras memecahkan masalah  dengan cepat dengan caranya sendiri. Dalam beberapa kasus, bisa jadi cukup membantu, tetapi bila tanpa perhitungan dan pertimbangan yang baik, dapat menimbulkan masalah yang lain.

Tipe ketiga, berusaha menyelesaikan masalah namun tetap memahami kemampuannya, dan berpikir kreatif untuk menyelesaikan masalah.

Tipe keempat, menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah baru (sudah tahu tidak bisa berenang, main ‘nyemplung’ aja, jadinya menambah masalah).
Banyak tipe orang seperti ini di kehidupan nyata, niatnya membantu menyelesaikan masalah tetapi malahan menimbulkan masalah baru.

Nah, termasuk tipe yang manakah anda saat menghadapi masalah?



Oktira Kirana,

Friday, August 27, 2010

Do what you love, Love what you do

NETWorking
Do what you love, Love what you do

Networking seringkali didefinisikan sebagai dua atau lebih orang atau grup yang yang terhubung secara bersama dengan kemampuan berkomunikasi antara satu dengan lainnya.
Atau networking secara sederhana dapat didefinisikan pula sebagai interaksi informal dengan orang lain yang memiliki minat yang sama yang dapat memberikan keuntungan bagi kebutuhan bisnis maupun pribadi.

Saya sendiri mendefinisikan NETWorking sebagai :

No excuses
Enthusiasm
Trust
Working hard

No excuses
Pernahkah Anda berpikir mengapa seseorang bisa menjadi kaya? Menjadi pintar? Menjadi terkenal? Menjadi berhasil? Sementara Anda tidak?
1. Apakah keberhasilan yang mereka capai membuat Anda tergugah dan berusaha lari mengejar ketertinggalan Anda?
2. Atau Anda mulai mencari tahu apa yang membuat mereka menjadi berhasil?
3. Atau Anda mulai mencari kelemahan-kelemahan mereka?

Jika hal pertama yang Anda lakukan, maka Anda sudah mulai berpikir positif dan berusaha tetap positif pada diri Anda. Hal ini akan membuat Anda belajar dan bekerja lebih keras untuk bisa sama atau bahkan melebihi keberhasilan orang-orang tersebut. Bahkan ekstrimnya mungkin saja Anda mengatakan, “Sama-sama makan nasi, masa dia bisa berhasil/ sukses, saya enggak. Saya pasti bisa berhasil juga.”

Jika hal kedua yang Anda lakukan, ada dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, Anda akan mencari hal-hal positif yang membuat mereka berhasil, misalnya orang-orang ini berhasil karena mereka selalu membangun hubungan baik dengan siapapun, memiliki energi yang luar biasa untuk terus belajar, menggunakan setiap kesempatan yang datang kepadanya dengan baik, dan hal-hal positif lainnya yang pada akhirnya akan memicu Anda untuk menjadi seperti mereka.
Kemungkinan kedua, Anda akan melihat dari kacamata yang lain, misalnya mereka berhasil karena orang tuanya pejabat, sehingga mudah memperoleh ijin, mereka berhasil karena mampu membayar siapapun untuk melakukan apapun, mereka terkenal karena memiliki hubungan baik dengan pers yang dapat dengan mudah mereka pergunakan untuk mempublikasikan mereka, dan faktor-faktor ‘keberuntungan’ lain yang Anda sikapi secara negatif yang pada akhirnya akan menciutkan Anda untuk mengejar keberhasilan.

Nah, jika hal ketiga yang Anda lakukan, mungkin Anda akan mulai berpikir bahwa mereka memang terkenal, tetapi hidup mereka tidak tenang karena selalu dikejar-kejar wartawan, mereka memang berhasil tetapi tidak dapat menikmati hidup sepenuhnya karena harus bekerja sepanjang hari, mereka memang kaya-raya tetapi kehidupan keluarga mereka tidak bahagia, dan pernyataan-pernyataan yang membenarkan kondisi Anda saat ini.

Jika hal kedua dan ketiga yang Anda lakukan, maka “Excuses”-lah yang ada dalam kamus kehidupan Anda. Singkirkan! Dan bergeraklah mulai dari sekarang untuk melakukan hal yang pertama. Pecut diri Anda, jangan salahkan keadaan atau orang lain.

Enthusiasm
Antusiasisme akan membuat Anda bersemangat. Sama seperti senyum ataupun menguap (jika mengantuk), maka antusiasme juga menular. Bila Anda antusias, maka orang yang Anda ajak berinteraksi pun ikut antusias, bersemangat.
Namun jangan berkecil hati apabila ternyata orang lain tidak melihat sisi antusiasme Anda. Sangat mungkin bahwa mereka punya pemikiran berbeda atas energi Anda. Jangan khawatir, apapun pemikiran mereka, hal penting yang perlu Anda sadari adalah mencoba memahami sudut pandang mereka bila mereka memiliki perspektif yang berbeda.
Walaupun demikian, jangan simpan energi dan antusiasme Anda, tularkan kepada setiap orang untuk menemukan ide-ide cemerlang.

Trust
Trust and integrity adalah kata kunci dari kepercayaan. Jika ingin menjadi orang yang dipercaya, Anda harus siap membangun citra dalam berhubungan baik dengan semua pihak, atasan, bawahan dan rekan sejawat Anda. Anda harus meyakinkan mereka bahwa Anda sanggup dan dapat dipercaya.

Trust sangat penting dalam sebuah hubungan. Anda tidak dapat mempengaruhi orang lain tanpa orang lain percaya kepada Anda. Hubungan yang baik didasari pada saling percaya dan saling menghargai antara satu individu dengan yang lain. Memang tidak mudah untuk melakukannya, namun dengan sedikit fleksibilitas dan beradaptasi pada kebutuhan individu akan sangat membantu Anda dalam membangun sebuah kepercayaan.

Jika orang lain mempercayai Anda, mereka akan lebih terbuka untuk berinteraksi dengan Anda. Seperti berjalan di atas spiral, demikian pula dalam membangun trust. Setiap lengkungan dalam spiral ibarat perubahan dan setiap perubahan dan tantangan yang dapat Anda lewati akan meningkatkan tingkat kepercayaan mereka kepada Anda. Sebaliknya bila Anda melanggar kepercayaan yang telah mereka berikan, spiral kepercayaan akan meluncur ke bawah dan Anda akan kehilangan kepercayaan.

Working hard
Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan apa yang kita sukai sebagai pekerjaan kita.Seperti yang tertulis dalam kata-kata bijak, Do what you love. Namun bila Anda belum seberuntung itu, maka Love what you do.

Bila Anda belum menemukan pekerjaan yang Anda cintai, maka cintailah pekerjaan Anda sekarang. Rasa mencintai pekerjaan akan memberikan efek positif pada hasil.
Tentukan motivasi kerja Anda. Ada orang yang bekerja untuk uang, ada yang bekerja untuk aktualisai diri, ada juga yang bekerja sekedar mengisi waktu luang. Namun seorang pekerja sipirtual akan lebih mengedepankan bekerja sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Tuhan. Oleh karenanya dia mampu mencintai pekerjaannya karena dia tahu tujuan dari bekerja adalah Tuhan.

Tidak mudah memang untuk menjaga kecintaan Anda pada pekerjaan kita. Ada kalanya rasa cinta itu memudar. Jangan patah semangat, temukan kembali hal yang mampu mendorong Anda untuk tetap semangat. Motivasi diri Anda sendiri dan bekerja keraslah untuk mempertahankannya. Bekerja keraslah untuk selalu mencintai pekerjaan Anda.

Kehidupan bukanlah sesuatu yang statis. Dia senantiasa bergerak dinamis. Tidak semua hal berjalan sesuai dengan keinginan, namun Anda dapat mencoba untuk mengubah apa yang bisa Anda ubah, dan tetap sabar menerima apa yang tidak dapat diubah.
Jangan biarkan sedikitpun perubahan-perubahan di luar Anda melunturkan cinta Anda pada pekerjaan Anda, meluluhkan energi Anda pada kerja keras Anda.

Jadi teruslah :
1. Berpikir Positif tanpa “excuses”
2. Antusias
3. Percaya dan dapat dipercaya
4. Bekerja keras dan menyenangi pekerjaan Anda


Salam,
Oktira Kirana
http://okirana.blogspot.com/


Friday, August 6, 2010

'Stuntman' is my middle name ...

‘STUNTMAN’ IS MY MIDDLE NAME …

Apa yang terbayang oleh Anda saat mendengar kata ‘stuntman’?
Ya, ‘stuntman’ atau pemeran pengganti atau ‘substitute’?
Kesan pertama yang tertangkap pastilah pengisi atau pelengkap yang kurang. Memang terkesan sedikit negatif, namun begitulah paradigma yang selama ini terpatri pada pikiran kita.

Perhatikan saja iklan-iklan film yang dengan bangga mengatakan “tanpa pemeran pengganti”, artinya, pemeran pengganti itu tidak penting, bila pemeran utama berani, kompeten. Mereka bangga karena untuk adegan-adegan penting, tidak ada pemeran pengganti. Contoh saja seperti bintang film Jacky Chan yang selalu mengatakan bahwa dalam semua filmnya tidak pernah menggunakan ‘stuntman’ alias pemeran pengganti tadi.

Namun, terlepas dari makna yang terkandung di dalam kata ‘stuntman’ itu sendiri, menurut saya, menjadi ‘stuntman’ dapat menjadi hal yang positif kalau disikapi dengan positif.

Saya jadi teringat pernyataan yang pernah dilontarkan oleh salah seorang public figure saat saya mengikuti sebuah seminar “…tidak perlu menjadi nomer satu untuk berkarya…”

Saya setuju sekali dengan pernyataan tersebut. Dan kenyataannya pernyataan tersebut terbukti, paling tidak versi saya sesuai pengalaman pribadi. Itu sebabnya saya tidak berkebaratan saat saya harus berperan sebagai seorang ‘stuntman’, karena sebagai ‘stuntman’ saya bisa berperan menjadi apa saja.

Saat mereka memerlukan peran dokter, maka saya bisa berperan sebagai dokter dengan baik, saat mereka memerlukan peran penasihat, saya bisa berperan sebagai seorang penasihat, saat mereka memerlukan peran pendengar, saya bisa berperan menjadi seorang pendengar, bahkan saat mereka hanya memerlukan peran pendamping, saya pun bisa berperan menjadi pendamping yang baik.

Melihat kemampuan aneka ragam yang harus dimiliki, maka jangan salah bila seorang ‘stuntman’ haruslah seorang yang serba bisa. Kalaupun belum serba bisa, maka dia haruslah seorang yang “siap” untuk dibentuk menjadi ‘serba bisa’. Karena seringkali banyak hal yang harus dia dipelajari dalam waktu singkat sebelum dipraktekkan.
Stuntman’ pun perlu training. Kecuali Anda ingin ‘stuntman’ Anda benar-benar ‘terjun bebas tidak pakai payung’ alias modal nekad.

Lalu apa yang saya peroleh dengan menjadi ‘stuntman’ tadi?
Banyak. Dari hal yang saya tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari yang tadinya tidak memahami menjadi paham, bahkan dari hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, bisa menjadi inspirasi bagi saya. Hebat kan?
Semua kembali kepada diri kita, mau belajar dari hal kecil atau mau mengecilkan hal yang bisa kita pelajari.

Kembali ke pernyataan di atas tadi, maka tidak ada salahnya menjadi orang nomer 2. Diakui atau tidak, toh orang kedua selalu diperlukan. Perhatikan saja, di setiap kepengurusan selalu ada wakil ketua. Dan aturan mainnya pun jelas, bahwa bila ketua berhalangan, maka wakil ketua akan menggantikan atau meneruskan jalannya organisasi.

Dalam hal kompetisi, maka menjadi orang ke-2 sama juga dengan menyemangati orang lain. Kok bisa?
Kalau tidak ada orang nomer 2, maka orang nomor satu tidak akan pernah merasa terancam, karena dia yakin, dialah satu-satunya orang yang akan selalu menjadi nomer satu. Beda dengan kalau dia tahu bahwa ada orang nomer 2 yang setiap saat siap menggesernya dari kedudukan nomer satu, mau tak mau, dia dipaksa untuk terus berusaha lebih baik lagi dan lebih baik lagi kalau tidak mau digeser … :) Sepertinya hal ini berlaku juga dalam bisnis.

Sama dengan orang kedua, maka ‘stuntman’ adalah orang nomer 2 yang kehadirannya dibutuhkan, entah itu sebagai pemeran pengganti, pendamping atau penyemangat.

Jadi, kalau Anda merasa menjadi ‘stuntman’ jangan berkecil hati. Mariah Carey dulunya juga backing vocalist-nya Whitney Houston, tapi sekarang dia lebih bersinar. Jadi bukan tidak mungkin kalau Anda yang sekarang ‘stuntman’ akan lebih bersinar dari pemeran utama yang sekarang Anda gantikan atau dampingi. Time will tell!

Salam,
Oktira Kirana

Monday, June 21, 2010

Tipe yang manakah Anda?

Hampir di setiap sesi training saya, saya menjelaskan tentang 4 tipe peserta training. Mungkin Anda sudah pernah mendengarnya, tapi tak apalah kalau saya ingatkan lagi di sini.


Tipe pertama adalah pembelajar (learner).

Seorang pembelajar akan mencari tahu terlebih dahulu apa tujuan dari training tersebut, apa yang hendak dicapai dengan mengikuti training tersebut. Bahkan seorang pembelajar memiliki tujuan bagi dirinya sendiri, karena seorang pembelajar tidak akan membiarkan dirinya tak tentu arah.


Tidak hanya itu, seorang pembelajar juga akan berusaha memperoleh sesuatu dari yang telah dipelajarinya. Bagi pembelajar, setiap sesi adalah proses mengubah pola pikir, mengubah perilaku, ke arah yang lebih baik.


Seorang pembelajar, akan melihat setiap sesi sebagai peluang baru untuk belajar, setiap orang di sekelilingnya adalah trainer yang dapat memberikan banyak pelajaran yang mungkin tak tersampaikan dalam kelas training. Dan seorang pembelajar akan melihat setiap pertanyaan, quiz dan test dalam sesi training adalah kesempatan untuk mengasah diri menjadi lebih baik.



Tipe kedua adalah turis (tourist).

Sebagaimana layaknya turis pada umumnya, maka tujuan training bukanlah hal utama bagi seorang bertipe turis, yang lebih penting bagi mereka adalah, apakah tempat training itu menyenangkan atau tidak, apakah perjalanan menuju ke tempat training memberikan pengalaman baru atau tidak. Training bagi mereka identik dengan rekreasi, refreshment/ penyegaran.

Seorang bertipe turis akan lebih mengingat bagaimana sebuah training berlangsung daripada isi training itu sendiri. Bila suasana training membuat hatinya senang, maka dia akan senang mengikutinya. Sebaliknya bila suasana training membuatnya tidak nyaman, maka dia tidak akan nyaman mengikuti training tersebut.

Tidak terlalu penting pula bagi tipe turis untuk mengetahui siapa ‘guide’ yang akan membawanya ‘tour’ dalam training.

Tidak semua turis menyukai tantangan. Demikian pula peserta dengan tipe ini. Beberapa diantaranya akan melihat pertanyaan, quiz ataupun test sebagai sesuatu yang mengganggu kesenangan dan menjadi beban, karena memaksa mereka meninggalkan sejenak kegembiraan yang mereka nikmati selama training.


Tipe ketiga adalah sandera (hostage).

Jelas tergambar dari istilahnya, seorang sandera sama sekali tidak mengharapkan hadir dalam sebuah training. Baginya training adalah sebuah sesi yang membuatnya sangat tidak nyaman. Jangankan mencari tahu tujuan training, mencari tahu mengapa harus pergi training saja terkadang tidak dia lakukan.

Seorang sandera tidak akan peduli bagaimana pun lingkungan membawa dia, karena pikirannya hanya terfokus pada dirinya sendiri, pada bagaimana dia mencoba menenangkan dan menyamankan dirinya. Bagi seorang bertipe sandera, setiap orang yang ada di sekelilingnya adalah ancaman, terlebih mereka yang mencoba menyampaikan hal-hal yang tidak atau belum dia ketahui. Semakin banyak informasi yang dia terima dari orang-orang di sekitarnya, semakin dia merasa terancam.

Tipe sandera cenderung tidak memperhatikan sesi training yang berlangsung. Baginya tidak ada bedanya apakah dia dapat memetik pelajaran atau tidak dari training yang berlangsung. Baginya pula, setiap pertanyaan, quiz ataupun tes adalah hukuman yang harus dia terima sebagai konsekuensi mengikuti training. Secara ekstrim, seorang sandera akan selalu berharap training segera berakhir.


Tipe keempat adalah provokator (provocator).

Rasanya tipe ini hanya memerlukan penjelasan singkat. Tujuan training, tujuan mengikutinya dan pelajaran apa yang dapat diperoleh adalah hal yang tidak sepenuhnya dipahami bagi seorang provokator.


Mustahil memang menemukan peserta dengan tipe yang seragam dalam suatu kelas training. Justru keberagaman tipe peserta itulah yang membuat training menjadi lebih hidup, lebih dinamis, lebih menarik dan lebih menantang. Seperti layaknya sebuah kehidupan, akan lebih berwarna kalau orang-orang di dalamnya memiliki karakter yang berbeda-beda.

Dan setiap tipe pasti memiliki sisi positif dan negatif. Bisa dikatakan bahwa fasilitator ikut berperan dalam bagaimana membawa sisi negatif peserta ke arah yang positi, atau lebih mengeksplor sisi positif setiap tipe. Namun, yang lebih berperan lagi sebenarnya adalah peserta itu sendiri. Semua kembali kepada diri peserta masing-masing. Apakah mereka memiliki tujuan bagi dirinya dalam mengikuti training, apakah mereka mau menyesuaikan diri dengan peserta-peserta lain dan lingkungan barunya, apakah mereka akan mengambil pelajaran dari setiap sesi, quiz atau test yang diberikan; atau tidak.


Nah, jika kehidupan ini adalah sebuah training, dan setiap peristiwa di dalamnya adalah sesi-sesi dalam training, serta setiap musibah atau cobaan adalah quiz atau test, maka termasuk tipe peserta yang manakah Anda?


Salam,

Oktira Kirana

Tuesday, June 15, 2010

I WANT TO BREAK FREE

I WANT TO BREAK FREE

(I want to break free, I want to break free)
I want to break free from your lies
You're so self satisfied I don't need you
I've want to break free
God knows, God knows I want to break free

Siapa yang tak kenal lagu ngetop keluaran kelompok music Queen ini?
Versi yang sering saya dengar dari lagu di atas adalah versi Queen (aslinya) dan versi kelompok band nasional, Dewa. Iramanya sama, ‘beat’, relatif kencang, cepat…… saya kurang tahu istilah dalam bahasa musiknya.
Bagi saya, saat mendengarkan lagu ini, berasa sekali semangat ‘kebebasan’ yang diinginkan. Menggelora, lantang, penuh semangat.
Tapi kali ini beda. Saya mendengar lagu ini di sebuah mall saat berjalan-jalan dengan suami, dengan irama yang berbeda, lebih lembut dan ‘slow’. Tak urung lagu yang irama aslinya cukup saya kenal ini mengundang komentar saya, yang saya tujukan kepada suami, “Kok lagunya jadi gitu ya? Padahal kan ‘I want to break free’.”

Yang saya ajak bicara tersenyum lalu menyahut pelan, “ingin ‘free’ kan tidak berarti harus teriak-teriak.”

Hmmm…bener juga ya…
Kebebasan kan tidak identik dengan suara keras, tidak identik dengan keramaian, tidak identik dengan teriaka, dan yang lebih penting, tidak identik dengan huru-hara.

Bukan apa-apa, setiap kali menonton berita di tv tentang demo, ternyata yang mereka (pendemo) inginkan adalah kebebasan. Kebebasan untuk memperoleh informasi-lah, kebebasan untuk berekspresi-lah, kebebasan untuk berbicara-lah, kebebasan untuk menggunakan hak-lah….dan kebebasan-kebebasan yang lain.
Tetapi mengapa harus dengan demonstrasi? Mengapa harus dengan teriak-teriak? Mengapa juga harus dengan merusak? (mudah-mudahn bukan karena mereka terinspirasi dengan lagu ini ya).
Apakah bicara kebebasan berarti harus dengan suara lantang? Tidak juga, coba simak satu lagu lain dari Indra Lesmana, isinya kurang lebih sama, tentang keinginan bebas, tetapi disampaikan dengan lebih lembut dan orang lain tetap memahami maksudnya …

Dan kuceritakan pada dunia
Tentang harapan dan angan-anganku
Aku ingin dapat bebas lepas
Aku ingin senantiasa merasa bahagia
Aku ingin dapat terbang jauh
Bila tiada yang peduli …..

Menurut saya, kebebasan itu, kita sendiri yang menentukan. Apakah kita merasa terbelenggu apakah kita merasa bebas, kita lah yang menentukan.
Tidak perlu teriak-teriak untuk meminta kebebasan, karena kebebasan itu kita yang punya. Orang lain mungkin bisa membelenggu raga kita, mengurung diri kita, tetapi mereka tidak dapat membatasi kebebasan berpikir kita, mereka tidak dapat mencegah ide-ide yang menggelembung di otak kita. Banyak cerita sejarah yang membuktikan fakta ini. Fakta bagaimana terkurung raga tidak berarti terkurung jiwa apalagi pikiran.

Masih ingat bagaimana tokoh-tokoh ternama membebaskan pikiran dan ide mereka pada saat fisik mereka terpenjara?

Ya! Seorang Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA -singkatan dari namanya- seorang sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik, pernah dipenjarakan awal tahun 1960an, tetapi tidak berhenti menulis dan berkarya. Bahkan selama di penjara beliau melahirkan kitab Tafsir Al Azhar yang menjadi bacaan umat sampai saat ini. Pemenjaraan tubuhnya dalam sangkar besi tidak memenjarakan semangatnya untuk beribadah kepada Tuhannya dan terus berkarya. Beliau tetap bebas mencurahkan pikirannya.

Dan nama lain adalah Viktor Emil Frankl, seorang Ph.D., yang juga seorang neurolog dan psikiater Austria serta korban Holocaust*) yang selamat, menulis buku Man’s Search for Meaning, sebuah buku yang menceritakan tentang bagaimana menggunakan 'spiritual freedom' untuk mengubah ‘attitude’ dari tidak berarti menjadi memiliki arti. Dengan kebebasan berpikirnya Frankl mentransformasikan tragedi dirinya sebagai sebuah kemenangan, kesuksesan. Dan inilah yang membuat Frankl bertahan hidup meskipun sebenarnya dia juga berada di antrian ‘green mile’.

Jadi, cukuplah untuk tidak lagi menuntut kebebasan, karena pada dasarnya kita sudah bebas.

[tapi saya tetap menyukai lagu Queen ini sebagai sebuah lagu lho …]


*)Holocaust (dari bahasa Yunani: holokauston yang berarti "persembahan pengorbanan yang terbakar sepenuhnya") adalah genosida sistematis yang dilakukan Jerman Nazi terhadap berbagai kelompok etnis, keagamaan, bangsa, dan sekuler pada masa Perang Dunia II.

Salam,
Ira

Wednesday, June 9, 2010

DON’T TOUCH THESE MESS, I KNOW WHERE EVERYTHING IS …..

DON’T TOUCH THESE MESS, I KNOW WHERE EVERYTHING IS …..

Kedengarannya seperti ancaman, tetapi begitulah tertulisnya.

Tulisan tersebut saya baca di meja dosen saya sekitar 16 tahun yang lalu, dan saat ini tulisan itu pun terpampang di meja (kerja) saya.
Sama sekali bukan bermaksud mengancam, tetapi saya punya aturan tersendiri dalam menetapkan ‘organisasi’ meja (kerja) saya. Saya akui bahwa saya termasuk orang yang memiliki attention to detail cukup tinggi. Termasuk orang yang relatif memiliki banyak aturan, banyak tatanan dan ingin menjaga aturan dan tatanan tersebut sesuai porsinya, walaupun seringkali tidak mutlak terjadi demikian.

Saat pertama kali membaca tulisan tersebut di meja dosen saya, saya pun sempat berpikir seperti yang Anda pikirkan, “Sombong sekali orang ini, kayak inget aja barang-barangnya yang berantakan ini.”
Tapi, itulah istimewanya. Saya percaya, karena itu didukung dengan bukti. Dan saya adalah saksinya.
Sebagaimana mahasiswa tingkat akhir pada umumnya, yang juga seringkali digambarkan di film-film lokal, pada hari yang telah ditetapkan, saya pun duduk ‘manis’ menunggu dosen saya untuk berkonsultasi tentang tugas akhir. Saya datang lebih pagi, dipersilakan duduk oleh petugas yang ada, di kursi di depan meja beliau untuk menunggu, karena beliau belum datang.

Nah, saat itulah saya baca tulisan “Don’t touch these mess, I know where everything is”.
Sempat saya berpikir seperti yang saya sampaikan di atas tadi, tetapi kemudian saya tersenyum, sambil tetap berpikir dalam hati, “masa sih, beliau ingat bener letak barang-barang yang ada di mejanya, banyak begini, berantakan pula.”

Kurang lebih setelah hampir satu jam menunggu, beliau muncul dengan gaya khas beliau (agak cowboy). Setelah sekilas ‘say hello’ beliau tidak langsung mengajak saya ngobrol tetapi langsung melihat-lihat mejanya, dan memanggil petugas kebersihan yang tadi mempersilakan saya duduk untuk menunggu. Bukan cara memanggilnya yang membuat saya melongo, tetapi pertanyaan yang dilontarkan pada si Petugas kebersihan itulah yang membuat saya melongo, karena beliau menanyakan,”Pak, ballpoint biru yang nggak ada tutupnya, yang ada di samping telepon, Bapak pindahin kemana ya?”

Belum selesai melongo saya, karena saya pikir beliau hanya lupa, eh, pak Petugas pun menjawab, “Saya masukkan ke dalam tempat pensil di meja Bapak.”
Bukan berterima kasih, beliau malah berujar dengan sedikit nada mengingatkan, “Saya kan sudah bilang, meja saya jangan dikutak-kutik, jangan dipindah-pindahkan barang-barangnya, Saya kan sudah tulis di situ, ‘Don’t touch these mess, I know where everything is’, Saya tahu kalau meja saya isinya berubah atau berpindah.”

Pak Petugas kebersihan kembali menjawab dengan lugu, “Maaf Pak, tapi saya nggak ngerti arti tulisan Bapak itu.”

Gubbraaakk!!

Kira-kira itulah yang terjadi dengan saya mendengar jawaban pak Petugas kebersihan tadi.

Pelajaran yang saya tangkap kemudian adalah :

1. Bila Anda bermaksud menyampaikan pesan, sesuaikan dengan lingkungan Anda. Bahasa tulisan bisa memiliki makna yang berbeda saat dibaca oleh orang yang berbeda, dengan cara pandang yang berbeda yang pada akhirnya menimbulkan pemahaman yang berbeda, (dalam kejadian di atas mungkin memberikan kesan kurang bersahabat, mengancam, tidak sensitif, dll.).
2. Bila Anda mengandalkan komunikasi tertulis untuk berkomunikasi dengan orang lain, pastikan sasaran ‘audience’ pesan Anda. Menggunakan bahasa yang lebih umum (universal) dan mudah dimengerti akan memudahkan pesan Anda dipahami oleh pihak yang Anda maksud.

Kembali, komunikasi selalu melibatkan 3 unsur dasar, pemberi informasi, penerima informasi dan media. Di setiap ketiganya tidak terlepas dari adanya hambatan. Rasanya tidak mungkin untuk menghilangkan semua hambatan yang ada. Yang dapat kita lakukan adalah meminimalkan hambatan yang terjadi sehingga komunikasi yang kita lakukan menjadi lebih efektif.

Namun tidak dipungkiri bahwa saya, secara pribadi, tetap menggunakan bahasa sebagaimana tertulis di atas, meski saya yakin tidak semua orang memahami maksud saya, tetapi saya cukup memahami ‘audience’ saya yang notabene secara pengetahuan di atas rata-rata. Saya hanya ingin menyampaikan pesan bahwa, silahkan meminjam barang-barang saya bila diperlukan, asalkan dikembalikan ke tempat semula, sehingga mudah bagi saya untuk mempergunakannya kembali….(jadi panjang kan kalau dituliskan demikian…?? )

Meski seringkali saya temukan pada hari Senin, awal minggu letak telepon tidak seperti pada saat saya tinggalkan di hari Jum’at, saya cukup memahami, bahwa petugas kebersihan sedang melakukan tugasnya membersihkan meja dan telepon pada hari Sabtu, dan saya tidak berhak complain atas hal itu ……. Harusnya berterima kasih malah …..

Begitu teman, sama sekali bukan bermaksud untuk tidak bersahabat… 


Salam,
Ira

Tuesday, June 8, 2010

‘Secret Recipe’


Terinspirasi dari pesan singkat seorang teman, saya mencoba mengurai lebih banyak isi pesan tersebut. Dalam pesan singkatnya teman saya memberikan semacam ‘wise word’ tentang motivasi, dan point saya tertuju pada kalimat “apa rahasia sukses dalam hidup?”



Saya jadi teringat film Kungfu Panda. Terus terang saja, saya berkali-kali nonton film ini baik dari DVD pribadi maupun setiap kali ditayangkan di televisi. Dan saya tidak pernah bosan. Menurut saya film Kungfu Panda sarat pesan dan nasihat. Banyak “insight” di dalamnya yang kalau kita jabarkan satu persatu mungkin tak cukup waktu seharian untuk membahasnya.


Pesan paling menonjol yang saya tangkap dari film ini adalah “resep rahasia” (keberhasilan/ kekuatan).

Ayah Po (si Kungfu Panda) memiliki ‘resep rahasia’ dalam mengolah mie yang menjadi andalannya.

Seorang “Dragon Warrior” dipercaya akan memiliki ilmu yang ‘melimpah’ bila dia memiliki ‘resep rahasia’ yang terdapat di dalam gulungan yang (sekali lagi percaya), hanya boleh dilihat dan dibaca oleh seorang “Dragon Warrior”.


Pertanyaannya kemudian adalah, “Apakah resep rahasia itu ada?

Saya mungkin tidak perlu menjabarkan lebih jauh karena saya yakin Anda dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut.

Terbayang oleh saya raut muka dan ekspresi si Po (si Panda) pada saat dia dinyatakan lulus oleh master Sifu dan diperbolehan untuk membuka gulungan ‘resep rahasia’ tersebut.

Sebelum membuka gulungan tersebut ekspresi mukanya begitu bersemangat, gembira dan menunjukkan keinginan dan keyakinan bahwa dia akan menjadi seorang pendekar hebat dengan tambahan ilmu rahasia dari sang master guru Oagway.

Namun seketika itu juga ekspresinya berubah menjadi tak percaya dengan apa yang dilihatnya karena gulungan tersebut ternyata KOSONG.

Tidak ada tercantum sedikitpun tentang ilmu rahasia di sana. Yang ada hanya lembaran kosong yang memantulkan wajah Po saat dia melihatnya.


Lama Po menyadari hal ini sebagai suatu “ilmu” pamungkas bagi dirinya yang telah dinobatkan sebagai seorang “Dragon Warrior”.

Baru setelah dia mendapatkan jawaban ‘resep rahasia’ versi ayahnya, bahwa ‘resep rahasia’ atau secret recipe itu tidak ada, yang ada hanyalah keyakinan diri bahwa kita bisa, mampu dan menghasilkan yang terbaik seperti yang kita inginkan; Po seakan bercermin dari jawaban ayahnya bahwa itulah makna ‘resep rahasia’ dalam gulungan tersebut.

Saat dia menatap lembaran gulungan tersebut, maka akan nampaklah raut wajahnya sendiri, dan resep rahasia itu ada di sana, di dalam dirinya, di dalam diri kita.


Tidak mudah memang, karena Po tidak hanya harus menaiki sekian anak tangga yang selalu membuatnya ‘ngos-ngos-an’, tetapi dia juga harus rela belajar mati-matian demi belajar kungfu setelah dia ditunjuk sebagai calon ‘Dragon Warrior’. Po bahkan tidak pernah menyerah sekalipun dia banyak menghadapi hambatan.


Bila kita yakin pada diri kita, maka kesuksesan atau apapun yang kita inginkan pasti dapat kita raih. Saat tersulit adalah bagaimana kita meyakinkan diri kita bahwa kita mampu.


Lembaran kertas itu akan tetap kosong, kecuali kita mengisinya dengan keyakinan dan percaya diri, kecuali kita menafsirkannya sebagai kekuatan kita.


Masih banyak ‘insight’ yang lain dalam Kungfu panda…. Lain waktu saya akan uraiakan ...


Salam,

Ira

Monday, May 31, 2010

KEHILANGAN WAKTU …..

KEHILANGAN WAKTU …..

Akhirnya saya ‘sempat’ update blog juga setelah sebelumnya seorang teman menanyakan kepada saya melalui media ‘chat’ (komunikasi untuk obrolan pendek), mengapa sudah lama tidak meng-update blog, apakah kehilangan inspirasi? Dan dengan singkat saya menjawab, “Kehilangan waktu.”

“Hilang kemana waktunya?”

Nah, untuk pertanyaan yang ini saya tidak dapat menjawabnya, karena saya sendiri tidak tahu kemana perginya waktu saya.

Time management, seringkali didefinisikan sebagai ilmu mengelola waktu, namun dalam prakteknya, seringkali kitalah yang dikelola oleh waktu.
Setiap orang punya waktu yang sama, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 4 atau 5 minggu per bulan, 12 bulan per tahun. Tetapi, mengapa ada yang merasa ‘pas’ jumlah waktunya, ada yang merasa ‘kelebihan’ namun ada juga yang merasa ‘kekurangan’. (saya katakan di sini kekurangan karena sebenarnya itu hanya perasaan si pelaku, karena jumlah waktunya toh sama saja)

Kalau mengutip Steven Covey dalam bukunya 7 Habits for Highly Effective People, habit ke-3 adalah "Putting First Things First" yang diartikan sebagai melakukan hal-hal terpenting terlebih dahulu dan melakukan hal-hal yang kurang penting setelahnya.

Lebih jauh, Covey menjelaskan, putting first things first, juga berarti menetapkan prioritas.
Bila Anda termasuk dalam kelompok orang yang selalu menetapkan prioritas, maka Anda akan melakukan hal-hal yang penting (important) tetapi tidak mendesak (urgent). Artinya, Anda melakukan hal-hal penting sesegera mungkin begitu Anda memiliki kesempatan melakukannya (misalnya mengerjakan PR sekolah atau PR kantor), namun tetap memiliki waktu untuk melakukan hal-hal lain (misalnya menonton TV atau main video game).

Namun, bila Anda seorang procrastinator, maka Anda akan menunggu sampai detik-detik terakhir (last minute) untuk bertindak, karena Anda sangat menyukai ‘ketergesaan’ ataupun ‘keterdesakan’, dan pada akhirnya, biasanya Anda akan melakukan hal yang mendesak (urgent) sekaligus penting (important) alias “last minute dot com” (istilah olok-olok yang biasa dipakai bila seseorang sudah terdesak tenggat waktu untuk melakukan hal yang penting, yang pada akhirnya menjadi urgent karena sudah tidak dapat ditunda penyelesaiannya).
~dalam kenyataannya ada tipe-tipe orang seperti ini, mereka bahkan mengatakan, kalau dalam keadaan tertekan (oleh waktu atau target), maka mereka merasa lebih cepat berpikir dan bertindak …benarkah?? ~

Bila Anda bukan termasuk kedua kategori di atas, maka kategori lain adalah “yes-man”.
Seorang “yes-man” hanya akan melakukan sesuatu karena diminta. Orang-orang dalam kategori ini melakukan hal-hal yang tidak penting, tetapi selalu urgent.

Dan kategori yang paling parah adalah ‘slacker’ atau ‘idler’. Orang-orang dalam kategori ini adalah mereka yang melakukan sesuatu tanpa pernah tahu alasannya. Mereka melakukan hal-hal yang tidak penting dan tidak urgent.

Nah, kembali ke ‘kehilangan waktu’ tadi, saya jadi mulai berpikir lagi, saya masuk kategori yang mana ya? Karena saya kadang-kadang merasa ‘kekurangan’ waktu.
Kalau prioritizer rasanya kok belum sempurna, proscastioner, sepertinya sering ketemu hal-hal seperti itu, ‘yes-man’, aduh! Atau jangan-jangan saya kadang-kadang jadi ‘idler’ juga?

Bagaimana dengan Anda?

Tuesday, April 6, 2010

D I S K O N

DISKON

Masih ingat gambar “My way, Your way, Our way”?


Sebelumnya saya pernah uraikan tentang perbedaan persepsi yang dapat mengakibatkan interaksi yang tidak produktif dan akhirnya terjadi ‘diskon’.

Apa yang terpikir oleh Anda kalau mendengar kata diskon (discount)?
Harga Turun? Murah? Tidak berharga? Obral? Kualitas jelek? Sudah tidak trend/ ketinggalan jaman? Cuci gudang? Barang sisa? Barang tidak laku? Remeh?

Apa yang kita rasakan bila seseorang mengatakan kepada kita, “Susah ya ngomong sama kamu, sudah dijelaskan berkali-kali tidak mengerti juga.”
Marah? Kesal? Mungkin saja, karena kita merasa direndahkan. Artinya kita di-‘diskon’.

Perasaan yang demikian itulah yang juga dirasakan oleh lawan bicara kita saat kita men’diskon’ mereka dengan kata-kata ataupun perilaku-perilaku yang kita perlihatkan kepada mereka.

Diskon dapat timbul dalam berbagai bentuk. Sikap men-diskon berarti kurangnya perhatian atau adanya perhatian negatif yang melukai kita atau orang lain secara fisik atau emosional. Sarkasme, kekasaran, ketidaksabaran, keluhan, menjelaskan secara berlebihan dan menggunakan istilah-istilah yang tidak dimengerti oleh lawan bicara, merupakan bentuk-bentuk diskon terhadap orang lain.

Kita pun dapat mendiskon diri kita sendiri atau kemampuan kita, dengan merendahkan diri sendiri, merendahkan kemampuan diri sendiri dan menghindari tanggung jawab atas perasaan kita.
Mungkin, tanpa kita sadari seringkali kita mengatakan, “Bodoh sekali saya ini” atau “Saya tidak mampu melakukannya.” itu artinya kita sedang mendiskon diri kita atau kemampuan kita sendiri. Atau pernah tidak kita mengatakan, “Gara-gara kamu, saya jadi marah-marah begini.” bila ya, artinya kita menghindari tanggung jawab atas perasaan kita sendiri, dan menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya munculnya perasaan kita.
Kalau kita marah, maka bukan karena orang lain, karena bukan mereka yang membuat kita marah, melainkan perasaan dan cara kita merespon situasi yang menentukan apakah kita akan marah atau tidak.

Oleh karenanya, hindari diskon. Diskon dapat mengakibatkan perasaan buruk atau perasaan tidak dihargai.
Mengambil tanggung pribadi terhadap suatu masalah dan memilih respon yang sesuai atas suatu kondisi dan situasi akan menghasilkan interaksi yang produktif dan menghindarkan kita dari mendiskon orang lain dan diri sendiri.

“MY WAY, YOUR WAY, OUR WAY”


“MY WAY, YOUR WAY, OUR WAY”

Apakah Anda termasuk orang yang percaya tafsir mimpi?

Bukan! Saya bukan mau mengajak anda menafsirkan mimpi atau percaya mimpi.
Seorang teman (A) bercerita kepada saya bahwa dia dimimpikan oleh temannya (B). Dalam mimpinya, si B mengatakan bahwa dia bermimpi buruk tentang A.

Sebagai seorang teman yang baik, saya mencoba menghibur A dengan mengatakan bahwa, biasanya, biasanya lho..... arti mimpi itu kebalikan dari mimpinya.... misalnya mimpi digigit ular berarti mau dapat jodoh, mimpi dipipisin bayi artinya akan dapat rejeki...... maaf, ini hanya contoh yang sering saya dengar....

Jadi, sekali lagi saya sampaikan ke A, bahwa kalau B mimpi buruk berarti akan terjadi sebaliknya. Bukan respon gembira yang saya dengar dari A, malah dia mengatakan, “Jangan sebaliknya dong..... aku ingin yang sebenarnya.” Lho!? Saya sekarang yang bingung. Bukannya tadi A bilang bahwa B mimpi buruk tapi kok malah ingin mimpinya terjadi.

Cerita punya cerita, ternyata mimpi si B adalah si A mendapat tawaran pekerjaan baru, dan dalam mimpinya B melihat A sedang menyelesaikan proses pengunduran dirinya, termasuk “exit interview” dengan bagian HR.
Menurut B, itu adalah mimpi buruk, karena B akan kehilangan teman karena pindah tempat kerja.
Menurut A, itu adalah mimpi baik, karena A mendapat kesempatan baru yang memang dia harapkan.
Oh, begitu ceritanya.

Mungkin itu yang dimaksud dengan perbedaan sudut pandang, atau lebih tepatnya cara pandang.
[Oh, satu lagi tentang kata “sudut” pandang ini, ada teman saya yang tidak setuju dengan istilah “sudut”, karena secara harfiah, sudut berkonotasi sempit atau kecil. Jadi kalau kita mengatakan sudut pandang, berarti dari pandangan yang sempit. Ini menurut pendapat teman saya.]

Perbedaan cara pandang seringkali memberikan kesimpulan yang bertentangan dan bila terjadi berkelanjutan dapat menimbulkan perselisihan.
(Contoh kecil saja, dari gambar di atas, apa yang Anda lihat? Apakah Anda melihat gambar 'wajah' atau tulisan 'Liar'? atau mungkin keduanya?)

Tentang cara pandang ini, saya mencoba membuat skema seperti berikut, yang kita sebut saja ”my way, your way, our way”



Dalam setiap situasi, ada “Menurut Saya” (area merah), “Menurut Anda” (area biru), dan “Menurut Kita” (area berarsir yang merupakan irisan merah dan biru). Situasi seperti ini dapat menimbulkan perbedaan persepsi.

Pada situasi yang sama, kita bisa memiliki cara pandang yang berbeda, yang mengakibatkan reaksi yang berbeda. Reaksi yang kita berikan berdasarkan pada nilai-nilai yang kita anut (seperti menafsirkan mimpi tadi). Masing-masing dari kita memiliki kerangka acuan yang berbeda untuk menyerap apa yang terjadi di sekitar kita.
Masing-masing dari kita menilai orang lain berdasarkan apa yang kita anggap baik, benar atau normal. Penilaian-penilaian ini berasal dari serangkaian peraturan yang bisa berasal dari keluarga, budaya atau pengalaman kita. Perbedaan penilaian dan peraturan yang dianut dapat menimbulkan pertentangan serta prasangka.

Kembali pada gambar di atas, bila kedua belah pihak berinteraksi dengan mempertahankan persepsi masing-masing, “Menurut Saya” atau “Menurut Anda” maka interaksi yang terjadi tidak produktif. Interaksi yang tidak produktif apabila diteruskan akan membuat kedua belah pihak saling meremehkan atau dalam gambar terjadi diskon (tentang diskon ini akan saya jelaskan dalam artikel selanjutnya).

Interaksi produktif akan terjadi bila kedua belah pihak memiliki cara pandang yang sama, dalam gambar di atas adalah bagian berarsir. Artinya kedua belah pihak telah menemukan persepsi yang sama, memandang dengan cara yang sama dan meyakini nilai-nilai yang sama. Semakin besar area yang berarsir, berarti semakin persamaan persepsi yang ditemukan oleh kedua belah pihak, dan semakin produktif interaksi yang terjadi.

Pernahkah kita memiliki cara pandang yang berbeda dengan rekan atau mungkin pelanggan kita? Apa yang terjadi? Bagaimana cara menyelesaikannya?
Salah satunya adalah dengan melakukan komunikasi dua arah yang efektif sehingga mampu memperlebar persamaan persepsi dan nilai-nilai, dan menghasilkan interaksi yang produktif.

Perbedaan dalam persepsi tidak “benar” ataupun “salah”. Tanggapan kita dalam hati atau yang kita rasakan terhadap suatu situasi tidak jadi masalah, yang penting adalah bagaimana kita memilih respon kita sesuai dengan kondisi & situasi yang ada, perilaku yang memberikan hasil yang paling produktif pada saat kita berinteraksi dengan pihak lain.

Monday, March 8, 2010

Karyawan Tetap atau Tetap Karyawan??

KARYAWAN TETAP atau TETAP KARYAWAN?


Bertemu teman lama, kami sempat berbincang tentang kondisi terakhir masing-masing. Dari mulai keluarga, teman-teman yang kami kenal dulu, sampai ke pekerjaan.
Pertanyaan klasik tentunya adalah, “Kerja di mana sekarang?” tanya teman saya. Saya jawab, “Di perusahaan X. Kamu?” Saya balik bertanya. “Saya di bengkel motor” jawab teman saya.
“Haa...??” respon saya dengan penuh kekagetan, bagaimana mungkin, teman saya yang notabene adalah sarjana S1 di bidang ilmu pasti kok jadi nyasar ke bengkel (walaupun saya sendiri sekarang termasuk salah satu yang “nyasar”.
“Bengkel mana” lanjut saya lagi. “Ada Motor”, jawabnya singkat. “Kok bisa?” saya masih belum puas.
“Iya, aku buka usaha sendiri, buka bengkel motor. Memang sih, mungkin nggak nyambung dengan pendidikan, tapi aku kan dari dulu suka otomotif. Jadi, sekalian melakukan hobi, tapi menghasilkan uang. Begitu kan?”

Saya terdiam. Kehabisan kata-kata atau istilah kerennya speechless, nggak nyangka ternyata teman saya ini bukan karyawan lagi, tapi ‘punya’ karyawan alias bos! Dan hebatnya lagi, bos dari perusahaannya sendiri. Meskipun bukan perusahaan yang ngetop, tapi toh tetap perusahaan sendiri, milik sendiri, dikelola sendiri dan menghasilkan untuk diri sendiri dan orang lain. Dan yang paling hebatnya adalah, teman saya ini mampu melakukan hobinya sekaligus melakukan pekerjaannya dan menghasilkan uang!
Ck..ck..ck.. hebat...hebat...!

Bukan bermaksud membandingkan keberuntungan diri sendiri dengan orang lain, tetapi saya mencoba bercermin dari pengalaman teman saya tersebut.
Saya yang dari awal bekerja, mulai dari karyawan project bases, karyawan kontrak yang berharap suatu saat diangkat menjadi karyawan tetap, dan pada saat hari pengangkatan menjadi karyawan tetap itu pun ada, ternyata.....sampai sekarang....saya......tetap karyawan.

Tapi, jangan berani-berani membandingkan diri sendiri dengan orang lain kecuali Anda siap bergerak untuk menjadi yang lebih baik dari diri Anda sekarang, karena bila tidak, maka Anda telah merendahkan diri sendiri.

Saya pun akhirnya tergerak untuk menjadi seperti teman saya itu. Saya mulai mencoba menggali potensi yang ada dalam diri saya yang selama ini mungkin terkungkung di dalam diri karena keterbatasan waktu maupun kesempatan, dan menunggu waktu untuk dieksplor. Saya coba cari dan cari lagi, gali dan gali terus.......
Sampai akhirnya saya bisa menulis seperti ini .....walaupun masih jauh dari sempurna, tapi saya bangga, karena saya mampu menggali potensi saya sekaligus hobi saya dan mempraktekkannya. Kalaupun belum mampu untuk menggerakkan mesin ekonomi saya, paling tidak saya sudah berusaha untuk mulai melepaskan diri menjadi tetap karyawan.....karena saya yakin suatu saat saya akan ‘punya’ karyawan..........

Banyak contoh yang sudah berhasil...............
Pernah nonton acara reality show “Bosan jadi Karyawan”? Lalu, mau jadi apa mereka?
Banyak. Ada yang mau menjadi pengusaha mini market, ada yang mau membuka usaha telekomunikasi (warung telekomunikasi atau warung internet), ada yang mau membuka usaha mini market, ada yang mau buka bengkel, bahkan ada yang mau berjualan burger..............

Intinya adalah ‘MAU’.
Anda bisa menjadi apapun yang Anda inginkan asalkan Anda mau belajar dan berusaha.
Saya yakin, Anda bisa!


Bingung mau mulai dari mana? Jawab dulu pertanyaan ini :
1. Dibidang apa Anda dapat menjadi paling baik, di dunia?
2. Apa yang menggerakkan mesin ekonomi Anda?
3. Apa yang amat Anda minati?

Nah, kalau Anda dapat menjawab ketiga pertanyaan tersebut dalam satu jawaban, maka, itulah saatnya Anda mulai bergerak untuk menjadi diri Anda sendiri yang “HEBAT”.

Ketiga pertanyaan tersebut diatas diistilahkan oleh Jim Collin (penulis buku ‘Good to Great’) sebagai Konsep Landak, dan satu jawaban Anda adalah irisan dari ketiganya.

Bila Anda menghasilkan banyak uang dengan mengerjakan sesuatu yang Anda tidak pernah menjadi yang paling baik, Anda akan SUKSES
Bila Anda menjadi paling baik pada sesuatu tetapi Anda tidak memiliki minat intrinsik atas apa yang Anda lakukan, maka Anda tidak akan pernah tetap berada di puncak.
Bila Anda berminat di suatu bidang, tetapi Anda tidak akan dapat menjadi yang paling baik di bidang tersebut atau tidak memberikan hasil ekonomi yang masuk akal, maka Anda mungkin akan mengalami banyak kegembiraan tetapi tidak membuahkan hasil yang hebat.

Apa Motivasi Anda?

APA MOTIVASI ANDA?

Kalau saya tanyakan kepada Anda, apa motivasi Anda bekerja, pasti saya akan memperoleh jawaban yang beragam, bergantung pada usia Anda, status Anda, apakah single, double atau triple..., pekerjaan Anda sekarang pekerjaan yang ke berapa, dan sebagainya.

Kalau begitu saya akan mulai dari, saat Anda ‘fresh gradute’, pada saat Anda melamar di suatu perusahaan, maka mereka akan bertanya, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Maka biasanya jawaban Anda sebagai seorang ‘freshgradute’ adalah, “Mencari pengalaman.”
Dan Anda pun diterimalah.....

Setahun, dua tahun, bahkan mungkin tiga tahun, pengalaman sudah Anda peroleh, Anda pun pindah kerja. Saat melamar di perusahaan baru mereka menanyakan lagi, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Jawaban Anda bukan mencari pengalaman lagi kan? Mungkin kali ini Anda mulai mencari kompensasi yang lebih tinggi. Dan Anda diterima dengan kompensasi seperti yang Anda harapkan.

Setahun, dua tahun, tiga tahun, kemudian, Anda mencari pekerjaan baru lagi. Pertanyaan yang sama diajukan kepada Anda, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Pasti jawaban Anda bukan lagi kedua jawaban diatas. Mungkin kali ini, Anda mencari karir yang lebih baik, karena di perusahaan sebelumnya posisi Anda selama 3 tahun tidak ada tanda-tanda perubahan.

Mendapat karir yang bagus di perusahaan baru, setahun, dua tahun, tiga atau empat tahun kemudian, Anda mencari pekerjaan baru lagi. Masih pertanyaan sama yang diajukan, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Apa jabawan Anda kali ini? Mendapat pengalaman sudah, kompensasi yang sesuai sudah, karir sudah, apalagi?

Siklus ini akan terus berlangsung. Dan berdasarkan hasil survey, jawaban atas pertanyaan “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?” pada akhirnya akan memberikan informasi mengenai hal yang paling dicari atau yang paling penting bagi karyawan dalam bekerja, yaitu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work life/ personal balance, yang berdasarkan hasil survey ada 46.53% responden menyatakan demikian. Faktor lain adalah lingkungan kerja yang menyenangkan atau pleasant working environment, yang dinyatakan oleh 30.09% responden. (hasil survey Hay Consultant tahun 2005).

Lebih jauh dalam survey tersebut juga disampaikan, bahwa 89.35% responden menyatakan setuju atas pernyataan, “Saya yakin bahwa kontribusi saya dihargai oleh atasan saya”.
dan 78.47% responen setuju dengan pernyataan “Saya menunggu waktu dimana pekerjaan saya diakui dan memperoleh pengakuan.”

Artinya, akan sampai di suatu titik dimana Anda tidak lagi mencari bentuk tangible dari suatu pekerjaan, tetapi lebih kepada hal yang bersifat ‘sesuatu yang Anda rasakan’. Yang lebih bernilai dari sekedar kompensasi atau karir.
Contoh kecil misalnya, Anda yang terbiasa mempunyai hari kerja Senin sampai Jum’at, akan berpikir dua kali untuk menerima tawaran kerja baru dengan hari kerja Senin sampai Sabtu, karena Anda sudah terbiasa menikmati keseimbangan hidup Anda dengan meluangkan waktu hari Sabtu untuk keluarga, dan itu akan mempengaruhi pola hidup Anda, baik secara profesional maupun personal.

Jika Anda seorang karyawan, apapun motivasi Anda, pilihlah yang terbaik bagi Anda. Jangan mudah tergiur oleh hal-hal yang bersifat tangible, karena saya yakin motivasi tersebut tidak akan bertahan lama. Jika ‘tangible’ benefit yang Anda kejar, maka petualangan mencari kerja Anda tidak akan pernah berakhir. Saya tidak bermaksud menyamaratakan motivasi Anda dengan pencari kerja lainnya. Semua bergantung pada orientasi dan tujuan hidup Anda masing-masing tentunya. Namun saya yakin, tujuan Anda suatu saat akan bermuara pada faktor-faktor yang bersifat intangible tersebut.

Jika Anda seorang pemimpin, maka pastikanlah bahwa Anda adalah orang pertama yang memberi selamat kepada anak buah Anda atas prestasi mereka. Pertahankan mereka dan jangan biarkan mereka berpindah ke lain hati hanya karena tidak mendapatkan perhatian dan penghargaan dari Anda. Dan kalaupun akhirnya mereka pindah kerja, pastikan bahwa itu bukan karena Anda, ‘bos’nya...

Jika Anda seorang pimpinan puncak suatu organisasi (baca: perusahaan), maka pastikanlah organisasi Anda memiliki sistem penghargaan yang terstruktur yang mampu menilai kontribusi karyawan sesuai tingkatannya, dan pastikan Anda dan tim manajemen Anda mampu menciptakan iklim organisasi yang mendukung terciptanya lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan bagi karyawan Anda di semua tingkatan.

Thursday, February 25, 2010

Perbedaan adalah Penyeimbang

PERBEDAAN adalah PENYEIMBANG


Dengan tayangan televisi seperti sekarang ini, agak susah bagi orang tua untuk mengontrol anaknya menonton acara televisi, meskipun televisi jaman sekarang sudah dilengkapi dengan “parents guide atau control”. Namun, ternyata bukan alatnya saja yang harus mendukung sistem kontrol tetapi juga pola yang diterapkan oleh orang tua dalam kegiatan menonton televisi tersebut. Karena, kadang-kadang, orang tua pun punya keinginan sendiri yang tidak dapat ditawar. Akhirnya bisa jadi anak-anak kita ikut menikmati tontonan yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang dewasa. Selama orang tua dengan bijak dapat membawa dan mengarahkan tontonan sebagai suatu pembelajaran sampai dengan batas-batas tertentu, maka hal ini mestinya tidak terlalu merisaukan.

Salah satu yang saya alami adalah saat menonton acara ‘Take him Out’ atau ‘Take me Out’. Dalam acara tersebut, seseorang dapat memilih atau dipilih sebagai pasangan. Sang pemilih biasanya telah melengkapi diri dengan data-data pasangan yang dia harapkan.

Terlepas dari kualitas tayangannya, acara tersebut ternyata memberikan ide positif kepada anak saya. Saya katakan positif karena di usianya yang baru 7 tahun, saya anggap dia sudah mampu menentukan dan menyusun kriteria persyaratan.

Setelah melewati beberapa sesi (dari 7 sesi yang ada), anak saya bertanya kepada saya, mengapa si A (laki-laki) mematikan lampu dan tidak mau dengan si X (perempuan). Saya katakan, karena si A memiliki persyaratan pasangan seperti apa yang dia inginkan. Si A ingin pasangan yang lemah lembut, mandiri, dan bla..bla...bla..... (saya ceritakan sekilas).

Nah, berawal dari sinilah, anak saya mengatakan bahwa dia juga memiliki syarat pasangan yang dia inginkan. Saya pikir hanya main-main dan pembicaraan ringan, saya respon pernyataannya dengan bertanya, “Memang Alif ingin pasangan yang seperti apa?” (saya terbiasa berkomunikasi secara terbuka dengan anak saya, sejak dia kecil).
Dengan polos anak saya menjawab, “Yang namanya berhuruf depan ‘A’,” Saya tersenyum mendengar jawabannya, karena mudah ditebak mengapa, karena namanya juga berawalan ‘A’. Saya pikir dia hanya mencari kesamaan saja. Perbincangan berlanjut, dan dengan bergaya seorang interviewer, saya bertanya apa syarat berikutnya dan mencatat jawabannya. Baru saya mencatat syarat no.1, anak saya memutuskan untuk menulis sendiri persyaratan yang dia tentukan.

Dan hasilnya adalah sebagai berikut, “Syarat jadi pasangan Alif” (benar-benar dia tuliskan sebagai judul) :
1. Namanya berhuruf depan “A”
2. Bulan lahirnya bulan Agustus
3. Suka warna putih
4. Suka makan buah
5. Orangnya smart
6. Rambutnya panjang
7. Harus rajin sholat
8. Orangnya tidak penakut dan pemalu
9. Tidak sombong
10. Pintar masak

Selama proses menyusun, saya dan Ayahnya menanggapi dengan tertawa-tawa saja karena kami menganggap ini adalah sebuah permainan.
Setelah persyaratan tersusun seperti tersebut di atas, rasa ingin tahu membuat saya menanyakan satu persatu lebih jauh alasan dibalik persyaratan-persyaratan tersebut kepada anak saya. Pertama, mengapa namanya harus berawalan huruf “A”, jawabnya tentu mudah ditebak, karena biar sama dengan namanya (Alif, berawalan “A”). Demikian juga dengan syarat kedua, supaya sama dengan bulan lahirnya.
Pertanyaan ketiga, Mengapa harus suka warna putih? “Karena aku suka warna merah, jadi dia (baca : calon pasangan) harus suka warna putih, jadinya merah-putih, serasi.” jawabnya.

Ups!
Saya pikir anak saya hanya akan menyusun daftar hal-hal yang sama dengan dirinya dalam mencari pasangan, ternyata, dia juga memikirkan tentang ‘keserasian’ atau ‘keseimbangan’.
Saya lanjutkan “interogasi” saya dengan syarat-syarat berikutnya.

Dan sampailah saya pada suatu kesimpulan, bahwa dari kesepuluh daftar di atas, ada persyaratan yang merepresentasikan adanya kesamaan (No.1, 2 dan 4), harapan (no. 5, 6, 7, 9, 10) dan perbedaan (no. 3 dan 8).

KESAMAAN, hal yang wajar, karena suatu pasangan atau mungkin suatu tim atau grup, terbentuk berawal dari mengetahui adanya kesamaan di antara mereka. Bahkan kalau ditanya mengapa mereka merasa cocok satu sama lain, maka jawaban klasiknya adalah karena mereka mempunyai kesamaan, entah itu hobi, kebiasaan, kesukaan ataupun ketidaksukaan, jadi kalau ‘ngobrol nyambung’ (bahasa ABG-nya begitu ya?)
Sering kita dengar ada club pecinta kereta api, club ‘bike to work’, club olah raga basket, club pengkoleksi album musik jazz, dan lain-lain. Mengapa club tersebut bisa terbentuk? Karena para anggotanya memiliki hobi yang sama, memiliki kesamaan.

HARAPAN. Tidak heran kalau daftar harapan lebih banyak dibanding yang lain. Namanya juga cita-cita dan harapan. Bahkan kalau daftarnya boleh dipanjangkan pasti masih banyak harapan-harapan lain yang akan muncul untuk mencoba mencari yang ideal seperti yang ada dalam bayangan kita. Meskipun jika ternyata ada satu-dua yang tidak dapat terpenuhi, kita toh masih bisa menerima orang lain sebagai pasangan kita, rekan kerja atau atasan kita (walaupun dalam beberapa kasus dikatakan, kita tidak dapat memilih atasan kita, tapi sebenarnya bisa!-kapan-kapan kita bahas lebih lanjut ya...)

PERBEDAAN. Mengapa harus ada ‘perbedaan’ dalam daftar persyaratan di atas? Seperti uraian saya sebelumnya, perbedaan dalam persyaratan di atas ternyata dimaksudkan sebagai “penyeimbang”.
Kalau kita suka warna merah dan pasangan kita suka warna merah, maka selesai urusan. Tidak perlu lagi kita berkomunikasi atau berdiskusi dengan pasangan kita karena pasti pasangan kita akan setuju dengan warna pilihan kita, yaitu merah.
Akan berbeda kondisinya kalau kita suka warna merah dan pasangan kita suka warna putih, maka sebelum kita memutuskan membeli atau membuat sesuatu untuk kepentingan bersama, kita akan berkomunikasi dan berdiskusi dengan pasangan kita, enaknya warna apa ya? Apakah merah garis-garis putih atau putih dengan latar belakang merah atau mungkin menjadi pink saja, campuran dari keduanya? Dan masih banyak lagi yang dapat kita diskusikan dengan pasangan kita, untuk menentukan warna pilihan “kita”.
Perbedaan membuka jalan menuju diskusi. Namun harus diingat, bahwa diskusi dilakukan dengan tetap mengelola emosi dan merespon secara positif untuk menghasilkan interaksi yang produktif.

Sepertinya tidak berbeda dengan dunia kerja. Biasanya kita akan merasa lebih ‘sreg’ untuk bekerja sama dengan rekan kerja, atasan atau tim yang memiliki kesamaan dengan kita, entah itu cara kerjanya, sifatnya, atau mungkin cara pandangnya. Namun dalam kenyataannya, rekan kerja atau bahkan atasan kita, tidak selalu punya kesamaan-kesamaan dengan kita.
Dan kita tidak dapat mengharapkan orang lain selalu memiliki kesamaan dengan kita, hanya supaya kita dapat bekerja sama atau merasa cocok dengan mereka. Perbedaan mestinya tidak dipandang sebagai suatu hambatan untuk berinteraksi dengan orang lain, melainkan merupakan materi untuk menuju interaksi yang lebih produktif. Memandang perbedaan sebagai penyeimbang, sebagai ide segar di luar kesamaan-kesamaan yang kita miliki akan memberi kita materi diskusi yang tak ada habisnya, karena masih bisa terus dikembangkan dan dikembangkan.

Kesamaan memudahkan kita untuk saling berinteraksi, dan perbedaan menjadikannya lebih bervarisi. (oktira)

Mengatasi Perasaan Negatif

MENGATASI PERASAAN NEGATIF


Bukan Jakarta namanya kalau tidak macet. Mungkin itu ungkapan yang pas kalau kita terjebak macet di Jakarta. Justru kalau Jakarta lengang, orang malah terheran-heran, kenapa kok tiba-tiba Jakarta jadi sepi? Kalau tidak lagi lebaran ya liburan (sekolah).

Jarak perjalanan saya ke kantor sebenarnya tidak terlalu jauh hanya sekitar 35km sekali jalan, lewat jalan tol setengah, setengahnya lagi jalan biasa (menghindari 3 in 1). Namun cobaan dan ujian kesabaran sepanjang perjalananan terasa lebih jauh dari jarak yang sebanarnya.
Karena masih belum punya asisten yang membantu saya menyetir, maka saya masih harus menyetir sendiri. Teman-teman saya bilang saya termasuk orang yang sabar karena masih bisa menyetir sepanjang 35km yang waktu tempuhnya bervariatif mulai dari 1,5 jam kalau jalan benar-benar lancar sampai 3 jam kalau terjebak macet yang tak berkesudahan. Saya bangga tentunya mendengar ’pujian’ teman-teman tersebut. Tapi jangan salah, saya punya banyak masalah kesabaran sepanjang perjalanan itu.

Masih tentang bahu jalan. Sepertinya saya punya ‘klik’ tersendiri setiap kali memperhatikan bahu jalan 
Alhamdulillah, saya bukan termasuk orang yang suka menggunakan bahu jalan jika berjalan di jalan tol, malah bisa dibilang anti. Kalaupun saya tidak menyetir sendiri, maka saya akan bilang ke ’pak sopir’ untuk tidak menggunakan bahu jalan, kecuali dalam kondisi darurat sesuai aturannya.

Manusiawi kalau ada perasaan marah atau jengkel saat ada mobil yang dengan sengaja mendahului dari kiri, atau berjalan lambat di jalur kanan pada saat di jalan tol, atau tiba2 pindah ke lajur dari bahu jalan karena di bahu jalan ada polisi yang sedang patroli. Terus terang saya akan marah juga dengan kejadian-kejadian itu, bahkan seringkali kemarahan saya terbawa terus sepanjang perjalanan saya sampai di kantor. Ujung-ujungnya, sampai kantor saya capek sendiri, capek hati dan capek badan karena tegang terus. Dan kejadian seperti ini tidak sekali-dua kali terjadi, tetapi setiap hari, minimal 3 jam dalam sehari dan 5 hari dalam seminggu.
Bisa anda bayangkan betapa capek badan dan pikiran bila 15 jam dalam seminggu yang kita bawa adalah rasa marah dan jengkel.

Itu yang berlaku pada saya, belum tentu Anda pun merasa demikian untuk kejadian yang sama. Setiap orang memiliki cara yang berbeda2 saat mulai terpancing (ingat artikel saya “Melawan atau Mengarahkan Lawan”) dan mengalami situasi sulit.
Beberapa orang mampu mengelola emosinya dengan baik sehingga mampu memberikan tanggapannya secara produktif dan tidak terpancing. Beberapa lainnya memberikan tanggapannya dengan tidak produktif, seperti saya waktu itu.

Tapi itulah kenyataannya. Setelah sekian lama, baru saya menyadari bahwa kejengkelan dan kemarahan saya itu tidak perlu. Siapa sih yang rugi kalau kita marah dan jengkel ke orang lain? Tak lain dan tak bukan ya diri kita sendiri. Sementara orang lain tetap melaju meninggalkan kita yang bersungut-sungut menahan kesal.

Setiap orang memiliki perasaan yang berbeda-beda saat mengalami seituasi sulit. Hal ini bisa disebabkan oleh latar belakang atau pengalaman yang berbeda.
Misalnya latar belakang keluarga. Seseorang yang terbiasa mendengar suara keras dalam keluarganya, tidak akan terganggu atau biasa saja menghadapi orang yang berteriak2 di dekatnya, tetapi sebaliknya, seseorang yang terbiasa diperlakukan lemah lembut dalam lingkungan keluarga, akan merasa tidak nyaman bila mendengar suara keras sekalipun suara tersebut tidak bermaksud untuk memperlakukan dia secara kasar.

Atau karena pengalaman. Seseorang yang sudah pernah bertemu dengan pelanggan A yang sangat kritis dan cerewet, misalnya, maka terhadap kata-kata pelanggan A yang kritis, dia akan merasa biasa-biasa saja, karena dia sudah sering mengalaminya. Tetapi akan berbeda bila pelanggan A bertemu dengan orang yang baru pertama kali mengenal dia, maka bisa jadi orang tersebut akan bereaksi keras dan membalas kata-kata A yang kritis.

Biasanya Anda melakukan sesuatu sesuai dengan yang Anda rasakan, bila Anda merasa negatif, maka perilaku negatif yang akan Anda perlihatkan. Sebaliknya bila Anda merasa positif, maka perilaku positif yang akan Anda perlihatkan. (bahasa kerennya mungkin LoA ya?)

Berdasarkan pemahaman itu pulalah, dua minggu belakangan ini, saya mencoba untuk mulai belajar bersabar (terlambat? Tidaklah, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar bukan?). Dan latihan pertama saya adalah belajar mengatasi perasaan negatif selama di jalan, walaupun masih banyak hal-hal lain yang membutuhkan latihan kesabaran saya juga.

Ada banyak cara untuk menghindari atau mengatasi perasaan-perasaan negatif. Ada cara-cara negatif, ada pula yang positif.
Yang kita bahas cara-cara yang positif saja, siapa tahu dapat menjadi contoh.

Perubahan fisik
Kadang-kadang Anda mengatakan tidak dapat mengubah perasaan Anda. Cobalah untuk mengubah posisi Anda, berpindah, bergerak, berjalan di tempat, berdiri dari duduk atau sebaliknya. Dalam kasus saya, agak sulit karena dalam kondisi sedang menyetir (mau berjalan-jalan jelas tidak mungkin). Maka perubahan fisik yang bisa Anda lakukan misalnya, mengubah posisi duduk dari bersandar menjadi tegak (atau sebaliknya), posisi pegangan setir yang tadinya memegang penuh secara horisontal di kiri dan kanan, pindahkan ke bawah atau atas salah satunya, atau meletakkan tangan di sandaran tangan untuk beberapa saat.
Perubahan fisik sederhana atau mengganti aktivitas Anda, dapat mengubah perasaan Anda.

Mengalihkan perhatian
Jika distorsi biasanya tidak disarankan pada saat kita fokus pada sesuatu, maka tidak demikian saat Anda mengalami perasaan negatif. Mengalihkan atau memecah perhatian pada hal lain selain perasaan negatif yang Anda alami, dapat mengurangi ‘stres’ Anda. Tentu saja pemecah perhatian Anda adalah sesuatu yang positif.
Anda mungkin bisa menyetel musik favorit Anda agak keras dan ikut bernyanyi atau bila perlu sambil menggerakkan badan Anda sesuai irama musik (Anda tidak perlu khawatir dipertanyakan oleh orang lain apa yang terjadi dengan Anda, karena hal tersebut adalah wajar). Atau Anda bisa makan makanan kecil (ngemil) atau makan permen, karena dengan menguyah, membuat Anda mengalami aktivitas yang berbeda. Rasa yang ditimbulkan oleh makanan atau permen yang Anda kunyah akan membantu mengalihkan sedikit perhatian Anda.

Mencari sisi positf atau melihat dari cara pandang orang lain dari setiap perasaan negatif yang Anda rasakan.
Sulit memang, tetapi Anda bisa berusaha. Salah satunya adalah dengan memunculkan pemikiran yang membuat Anda dapat memaklumi suatu kondisi.
Misalnya, jika seseorang menyalip Anda (seperti yang saya alami), maka munculkanlah pemikiran bahwa, orang tersebut sangat terburu-buru, mungkin ada seseorang dalam mobilnya yang sakit dan harus sampai di rumah sakit dengan segera, atau mungkin istrinya mau melahirkan, atau mungkin dia terlambat menghadiri suatu pertemuan paling penting dalam hidupnya, dll.
Atau jika seseorang tiba-tiba menyerobot antrian Anda, munculkanlah pemikiran mungkin orang tersebut sudah mengantri dari kemarin dan belum juga mendapatkan tiket, atau kakinya sedang sakit sehingga tidak kuat berlama-lama berdiri, atau mungkin ....

Tindakan apapun yang Anda lakukan untuk mengurangi perasaan negatif Anda, yang terpenting adalah Anda harus bertanggung jawab terhadap perasaan Anda sendiri dan tidak menyalahkan orang lain. Dan yang pasti melakukannya dengan ikhlas...

Sabar Itu Indah ...
Bersabar diri merupakan ciri orang-orang yang menghadapi pelbagai kesulitan
dengan lapang dada, kemauan yang keras, serta ketabahan yang besar.

DISIPLIN : orang, pola pikir, tindakan atau budaya?

DISIPLIN : orang, pola pikir, tindakan atau budaya?


“Saat ini sedang dilakukan ‘operasi bahu jalan’ di jalan tol jagorawi, bagi para pengguna jalan tol untuk tidak menggunakan bahu jalan kecuali dalam keadaan darurat.”
Demikian suara penyiar radio yang sedang menyiarkan berita. Saya sedikit heran dengan isi berita tersebut, mengapa harus dilakukan operasi bahu jalan, karena sudah jelas-jelas terpampang rambu di sepanjang jalan tol “dilarang menggunakan bahu jalan kecuali dalam keadaan darurat” atau “bahu jalan hanya untuk keadaan darurat”.

Kalau saya berpikir secara ‘normal’ menurut saya, operasi bahu jalan tidak perlu dilakukan karena alat pemberitahu sudah tersedia dan sosialisasinya pun sudah ada sejak jalan tol tersebut dibangun.
Namun, sebaiknya saya berpikir ‘up-normal’ (sedikit di atas normal) untuk dapat membenarkan tindakan ini, karena dalam kenyataannya, tidak peduli apakah ada rambu atau tidak, tetap saja banyak pengguna jalan tol yang menggunakan bahu jalan untuk melajukan kendaraannya, apakah itu untuk menyalip (dari kiri) ataupun sekedar menghindari kemacetan (kecuali jika ada petugas).

Saya sering tersenyum sendiri dan merasa ‘kasihan’ bila melihat pengguna jalan tol yang dengan arogannya menggunakan bahu jalan, melaju dengan kencang mendahului mobil-mobil yang mengantri di lajur yang benar. Dan senyum saya akan bertambah lebar, saat melihat mereka mencoba menyelip diantara mobil-mobil yang mengantri di lajur kiri, karena, ternyata, di depan mereka, di bahu jalan, terparkir mobil petugas polisi patroli jalan tol. Saya hanya bergumam, “kasihan, mental disiplin mereka hanya sampai segitu.”

Seperti sebuah organisasi, masyakarat kita pun merupakan sebuah organisasi yang memiliki peraturan, kebijakan, ketentuan dan prosedur yang harus ditaati oleh anggotanya. Namun kenyataannya, seberapapun organisasi memiliki peraturan, kebijakan, ketentuan dan prosedur kerja, tidak dapat dipastikan bahwa peraturan, kebijakan dan prosedur kerja tersebut dilaksanakan sesuai sebagaimana yang seharusnya.

Maka wajar bila kemudian organisasi melakukan audit guna memastikan peraturan dan prosedur tersebut dijalankan. Sebagaimana petugas yang berwenang (polisi lalu lintas) melakukan operasi/ pemeriksaan di jalan. Namun bila kita tilik lagi, seberapa sering organisasi melakukan audit, seberapa sering petugas berwenang melakukan operasi/ pemeriksaan, dan bagaimana hasilnya, dari satu pemeriksaan ke periode pemeriksaan berikutnya?

Selalu saja ada bagian dari peraturan atau prosedur yang tidak dijalankan. Mengapa? Secara umum seringkali penyebab utama bukanlah pada alatnya, melainkan karena kurangnya kesadaran untuk melakukan sesuai yang diharuskan, kalaupun dilakukan, seringkali tidak secara konsisten. Sebagian orang melaksanakan kebijakan ataupun prosedur tersebut karena ‘harus’ dan bukan karena kesadaran pentingnya mengapa dilakukan.
Sama seperti yang dilakukan oleh para pengguna jalan tol yang taat peraturan jalan hanya jika ada petugas karena takut kena tilang, bukan karena faktor keselamatan dirinya.
Disiplin yang dipunyai adalah disiplin karena adanya peraturan, kebijakan ataupun prosedur, bukan disiplin karena sesuatu yang diyakini sebagai nilai diri, bukan disiplin karena sesuatu yang menjadi kebiasaan, menjadi budaya.

Jim Collin dalam bukunya ‘Good to Great’ menyatakan, semua organisasi memiliki budaya, beberapa memiliki disiplin, tetapi hanya sedikit yang memiliki “budaya disiplin”.

Budaya disiplin itulah yang mestinya ditanamkan dan dikembangkan dalam organisasi dengan bentuk apapun, sehingga disiplin yang dijalankan adalah merupakan budaya, kebiasaan, standar atau nilai yang diyakini oleh setiap individu dalam organisasi. Bukan sebagai ‘polisi’ atau ‘hukum’ yang menghakimi dan mengadili bila seseorang tidak berlaku disiplin. Disiplin yang seperti ini akan pasang surut seiring dengan penerapan peraturan dan kebijakan dalam organisasi tersebut. Terlebih lagi bila penerapannya tidak konsisten.
(Saya yakin banyak contoh realnya).

Jika Anda memiliki orang yang disiplin, Anda tidak memerlukan hirarki.
Jika Anda memiliki pola pikir yang disipliln, Anda tidak memerlukan birokrasi.
Jika Anda memiliki tindakan yang disiplin, Anda tidak memerlukan pengendalian yang berlebihan.
Jika Anda memiliki budaya disiplin dan etika,
Anda akan menemukan ramuan ajaib untuk menghasilkan kinerja yang hebat.
(Jim Collins)