PERBEDAAN adalah PENYEIMBANG
Dengan tayangan televisi seperti sekarang ini, agak susah bagi orang tua untuk mengontrol anaknya menonton acara televisi, meskipun televisi jaman sekarang sudah dilengkapi dengan “parents guide atau control”. Namun, ternyata bukan alatnya saja yang harus mendukung sistem kontrol tetapi juga pola yang diterapkan oleh orang tua dalam kegiatan menonton televisi tersebut. Karena, kadang-kadang, orang tua pun punya keinginan sendiri yang tidak dapat ditawar. Akhirnya bisa jadi anak-anak kita ikut menikmati tontonan yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang dewasa. Selama orang tua dengan bijak dapat membawa dan mengarahkan tontonan sebagai suatu pembelajaran sampai dengan batas-batas tertentu, maka hal ini mestinya tidak terlalu merisaukan.
Salah satu yang saya alami adalah saat menonton acara ‘Take him Out’ atau ‘Take me Out’. Dalam acara tersebut, seseorang dapat memilih atau dipilih sebagai pasangan. Sang pemilih biasanya telah melengkapi diri dengan data-data pasangan yang dia harapkan.
Terlepas dari kualitas tayangannya, acara tersebut ternyata memberikan ide positif kepada anak saya. Saya katakan positif karena di usianya yang baru 7 tahun, saya anggap dia sudah mampu menentukan dan menyusun kriteria persyaratan.
Setelah melewati beberapa sesi (dari 7 sesi yang ada), anak saya bertanya kepada saya, mengapa si A (laki-laki) mematikan lampu dan tidak mau dengan si X (perempuan). Saya katakan, karena si A memiliki persyaratan pasangan seperti apa yang dia inginkan. Si A ingin pasangan yang lemah lembut, mandiri, dan bla..bla...bla..... (saya ceritakan sekilas).
Nah, berawal dari sinilah, anak saya mengatakan bahwa dia juga memiliki syarat pasangan yang dia inginkan. Saya pikir hanya main-main dan pembicaraan ringan, saya respon pernyataannya dengan bertanya, “Memang Alif ingin pasangan yang seperti apa?” (saya terbiasa berkomunikasi secara terbuka dengan anak saya, sejak dia kecil).
Dengan polos anak saya menjawab, “Yang namanya berhuruf depan ‘A’,” Saya tersenyum mendengar jawabannya, karena mudah ditebak mengapa, karena namanya juga berawalan ‘A’. Saya pikir dia hanya mencari kesamaan saja. Perbincangan berlanjut, dan dengan bergaya seorang interviewer, saya bertanya apa syarat berikutnya dan mencatat jawabannya. Baru saya mencatat syarat no.1, anak saya memutuskan untuk menulis sendiri persyaratan yang dia tentukan.
Dan hasilnya adalah sebagai berikut, “Syarat jadi pasangan Alif” (benar-benar dia tuliskan sebagai judul) :
1. Namanya berhuruf depan “A”
2. Bulan lahirnya bulan Agustus
3. Suka warna putih
4. Suka makan buah
5. Orangnya smart
6. Rambutnya panjang
7. Harus rajin sholat
8. Orangnya tidak penakut dan pemalu
9. Tidak sombong
10. Pintar masak
Selama proses menyusun, saya dan Ayahnya menanggapi dengan tertawa-tawa saja karena kami menganggap ini adalah sebuah permainan.
Setelah persyaratan tersusun seperti tersebut di atas, rasa ingin tahu membuat saya menanyakan satu persatu lebih jauh alasan dibalik persyaratan-persyaratan tersebut kepada anak saya. Pertama, mengapa namanya harus berawalan huruf “A”, jawabnya tentu mudah ditebak, karena biar sama dengan namanya (Alif, berawalan “A”). Demikian juga dengan syarat kedua, supaya sama dengan bulan lahirnya.
Pertanyaan ketiga, Mengapa harus suka warna putih? “Karena aku suka warna merah, jadi dia (baca : calon pasangan) harus suka warna putih, jadinya merah-putih, serasi.” jawabnya.
Ups!
Saya pikir anak saya hanya akan menyusun daftar hal-hal yang sama dengan dirinya dalam mencari pasangan, ternyata, dia juga memikirkan tentang ‘keserasian’ atau ‘keseimbangan’.
Saya lanjutkan “interogasi” saya dengan syarat-syarat berikutnya.
Dan sampailah saya pada suatu kesimpulan, bahwa dari kesepuluh daftar di atas, ada persyaratan yang merepresentasikan adanya kesamaan (No.1, 2 dan 4), harapan (no. 5, 6, 7, 9, 10) dan perbedaan (no. 3 dan 8).
KESAMAAN, hal yang wajar, karena suatu pasangan atau mungkin suatu tim atau grup, terbentuk berawal dari mengetahui adanya kesamaan di antara mereka. Bahkan kalau ditanya mengapa mereka merasa cocok satu sama lain, maka jawaban klasiknya adalah karena mereka mempunyai kesamaan, entah itu hobi, kebiasaan, kesukaan ataupun ketidaksukaan, jadi kalau ‘ngobrol nyambung’ (bahasa ABG-nya begitu ya?)
Sering kita dengar ada club pecinta kereta api, club ‘bike to work’, club olah raga basket, club pengkoleksi album musik jazz, dan lain-lain. Mengapa club tersebut bisa terbentuk? Karena para anggotanya memiliki hobi yang sama, memiliki kesamaan.
HARAPAN. Tidak heran kalau daftar harapan lebih banyak dibanding yang lain. Namanya juga cita-cita dan harapan. Bahkan kalau daftarnya boleh dipanjangkan pasti masih banyak harapan-harapan lain yang akan muncul untuk mencoba mencari yang ideal seperti yang ada dalam bayangan kita. Meskipun jika ternyata ada satu-dua yang tidak dapat terpenuhi, kita toh masih bisa menerima orang lain sebagai pasangan kita, rekan kerja atau atasan kita (walaupun dalam beberapa kasus dikatakan, kita tidak dapat memilih atasan kita, tapi sebenarnya bisa!-kapan-kapan kita bahas lebih lanjut ya...)
PERBEDAAN. Mengapa harus ada ‘perbedaan’ dalam daftar persyaratan di atas? Seperti uraian saya sebelumnya, perbedaan dalam persyaratan di atas ternyata dimaksudkan sebagai “penyeimbang”.
Kalau kita suka warna merah dan pasangan kita suka warna merah, maka selesai urusan. Tidak perlu lagi kita berkomunikasi atau berdiskusi dengan pasangan kita karena pasti pasangan kita akan setuju dengan warna pilihan kita, yaitu merah.
Akan berbeda kondisinya kalau kita suka warna merah dan pasangan kita suka warna putih, maka sebelum kita memutuskan membeli atau membuat sesuatu untuk kepentingan bersama, kita akan berkomunikasi dan berdiskusi dengan pasangan kita, enaknya warna apa ya? Apakah merah garis-garis putih atau putih dengan latar belakang merah atau mungkin menjadi pink saja, campuran dari keduanya? Dan masih banyak lagi yang dapat kita diskusikan dengan pasangan kita, untuk menentukan warna pilihan “kita”.
Perbedaan membuka jalan menuju diskusi. Namun harus diingat, bahwa diskusi dilakukan dengan tetap mengelola emosi dan merespon secara positif untuk menghasilkan interaksi yang produktif.
Sepertinya tidak berbeda dengan dunia kerja. Biasanya kita akan merasa lebih ‘sreg’ untuk bekerja sama dengan rekan kerja, atasan atau tim yang memiliki kesamaan dengan kita, entah itu cara kerjanya, sifatnya, atau mungkin cara pandangnya. Namun dalam kenyataannya, rekan kerja atau bahkan atasan kita, tidak selalu punya kesamaan-kesamaan dengan kita.
Dan kita tidak dapat mengharapkan orang lain selalu memiliki kesamaan dengan kita, hanya supaya kita dapat bekerja sama atau merasa cocok dengan mereka. Perbedaan mestinya tidak dipandang sebagai suatu hambatan untuk berinteraksi dengan orang lain, melainkan merupakan materi untuk menuju interaksi yang lebih produktif. Memandang perbedaan sebagai penyeimbang, sebagai ide segar di luar kesamaan-kesamaan yang kita miliki akan memberi kita materi diskusi yang tak ada habisnya, karena masih bisa terus dikembangkan dan dikembangkan.
Kesamaan memudahkan kita untuk saling berinteraksi, dan perbedaan menjadikannya lebih bervarisi. (oktira)
Thursday, February 25, 2010
Mengatasi Perasaan Negatif
MENGATASI PERASAAN NEGATIF
Bukan Jakarta namanya kalau tidak macet. Mungkin itu ungkapan yang pas kalau kita terjebak macet di Jakarta. Justru kalau Jakarta lengang, orang malah terheran-heran, kenapa kok tiba-tiba Jakarta jadi sepi? Kalau tidak lagi lebaran ya liburan (sekolah).
Jarak perjalanan saya ke kantor sebenarnya tidak terlalu jauh hanya sekitar 35km sekali jalan, lewat jalan tol setengah, setengahnya lagi jalan biasa (menghindari 3 in 1). Namun cobaan dan ujian kesabaran sepanjang perjalananan terasa lebih jauh dari jarak yang sebanarnya.
Karena masih belum punya asisten yang membantu saya menyetir, maka saya masih harus menyetir sendiri. Teman-teman saya bilang saya termasuk orang yang sabar karena masih bisa menyetir sepanjang 35km yang waktu tempuhnya bervariatif mulai dari 1,5 jam kalau jalan benar-benar lancar sampai 3 jam kalau terjebak macet yang tak berkesudahan. Saya bangga tentunya mendengar ’pujian’ teman-teman tersebut. Tapi jangan salah, saya punya banyak masalah kesabaran sepanjang perjalanan itu.
Masih tentang bahu jalan. Sepertinya saya punya ‘klik’ tersendiri setiap kali memperhatikan bahu jalan
Alhamdulillah, saya bukan termasuk orang yang suka menggunakan bahu jalan jika berjalan di jalan tol, malah bisa dibilang anti. Kalaupun saya tidak menyetir sendiri, maka saya akan bilang ke ’pak sopir’ untuk tidak menggunakan bahu jalan, kecuali dalam kondisi darurat sesuai aturannya.
Manusiawi kalau ada perasaan marah atau jengkel saat ada mobil yang dengan sengaja mendahului dari kiri, atau berjalan lambat di jalur kanan pada saat di jalan tol, atau tiba2 pindah ke lajur dari bahu jalan karena di bahu jalan ada polisi yang sedang patroli. Terus terang saya akan marah juga dengan kejadian-kejadian itu, bahkan seringkali kemarahan saya terbawa terus sepanjang perjalanan saya sampai di kantor. Ujung-ujungnya, sampai kantor saya capek sendiri, capek hati dan capek badan karena tegang terus. Dan kejadian seperti ini tidak sekali-dua kali terjadi, tetapi setiap hari, minimal 3 jam dalam sehari dan 5 hari dalam seminggu.
Bisa anda bayangkan betapa capek badan dan pikiran bila 15 jam dalam seminggu yang kita bawa adalah rasa marah dan jengkel.
Itu yang berlaku pada saya, belum tentu Anda pun merasa demikian untuk kejadian yang sama. Setiap orang memiliki cara yang berbeda2 saat mulai terpancing (ingat artikel saya “Melawan atau Mengarahkan Lawan”) dan mengalami situasi sulit.
Beberapa orang mampu mengelola emosinya dengan baik sehingga mampu memberikan tanggapannya secara produktif dan tidak terpancing. Beberapa lainnya memberikan tanggapannya dengan tidak produktif, seperti saya waktu itu.
Tapi itulah kenyataannya. Setelah sekian lama, baru saya menyadari bahwa kejengkelan dan kemarahan saya itu tidak perlu. Siapa sih yang rugi kalau kita marah dan jengkel ke orang lain? Tak lain dan tak bukan ya diri kita sendiri. Sementara orang lain tetap melaju meninggalkan kita yang bersungut-sungut menahan kesal.
Setiap orang memiliki perasaan yang berbeda-beda saat mengalami seituasi sulit. Hal ini bisa disebabkan oleh latar belakang atau pengalaman yang berbeda.
Misalnya latar belakang keluarga. Seseorang yang terbiasa mendengar suara keras dalam keluarganya, tidak akan terganggu atau biasa saja menghadapi orang yang berteriak2 di dekatnya, tetapi sebaliknya, seseorang yang terbiasa diperlakukan lemah lembut dalam lingkungan keluarga, akan merasa tidak nyaman bila mendengar suara keras sekalipun suara tersebut tidak bermaksud untuk memperlakukan dia secara kasar.
Atau karena pengalaman. Seseorang yang sudah pernah bertemu dengan pelanggan A yang sangat kritis dan cerewet, misalnya, maka terhadap kata-kata pelanggan A yang kritis, dia akan merasa biasa-biasa saja, karena dia sudah sering mengalaminya. Tetapi akan berbeda bila pelanggan A bertemu dengan orang yang baru pertama kali mengenal dia, maka bisa jadi orang tersebut akan bereaksi keras dan membalas kata-kata A yang kritis.
Biasanya Anda melakukan sesuatu sesuai dengan yang Anda rasakan, bila Anda merasa negatif, maka perilaku negatif yang akan Anda perlihatkan. Sebaliknya bila Anda merasa positif, maka perilaku positif yang akan Anda perlihatkan. (bahasa kerennya mungkin LoA ya?)
Berdasarkan pemahaman itu pulalah, dua minggu belakangan ini, saya mencoba untuk mulai belajar bersabar (terlambat? Tidaklah, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar bukan?). Dan latihan pertama saya adalah belajar mengatasi perasaan negatif selama di jalan, walaupun masih banyak hal-hal lain yang membutuhkan latihan kesabaran saya juga.
Ada banyak cara untuk menghindari atau mengatasi perasaan-perasaan negatif. Ada cara-cara negatif, ada pula yang positif.
Yang kita bahas cara-cara yang positif saja, siapa tahu dapat menjadi contoh.
Perubahan fisik
Kadang-kadang Anda mengatakan tidak dapat mengubah perasaan Anda. Cobalah untuk mengubah posisi Anda, berpindah, bergerak, berjalan di tempat, berdiri dari duduk atau sebaliknya. Dalam kasus saya, agak sulit karena dalam kondisi sedang menyetir (mau berjalan-jalan jelas tidak mungkin). Maka perubahan fisik yang bisa Anda lakukan misalnya, mengubah posisi duduk dari bersandar menjadi tegak (atau sebaliknya), posisi pegangan setir yang tadinya memegang penuh secara horisontal di kiri dan kanan, pindahkan ke bawah atau atas salah satunya, atau meletakkan tangan di sandaran tangan untuk beberapa saat.
Perubahan fisik sederhana atau mengganti aktivitas Anda, dapat mengubah perasaan Anda.
Mengalihkan perhatian
Jika distorsi biasanya tidak disarankan pada saat kita fokus pada sesuatu, maka tidak demikian saat Anda mengalami perasaan negatif. Mengalihkan atau memecah perhatian pada hal lain selain perasaan negatif yang Anda alami, dapat mengurangi ‘stres’ Anda. Tentu saja pemecah perhatian Anda adalah sesuatu yang positif.
Anda mungkin bisa menyetel musik favorit Anda agak keras dan ikut bernyanyi atau bila perlu sambil menggerakkan badan Anda sesuai irama musik (Anda tidak perlu khawatir dipertanyakan oleh orang lain apa yang terjadi dengan Anda, karena hal tersebut adalah wajar). Atau Anda bisa makan makanan kecil (ngemil) atau makan permen, karena dengan menguyah, membuat Anda mengalami aktivitas yang berbeda. Rasa yang ditimbulkan oleh makanan atau permen yang Anda kunyah akan membantu mengalihkan sedikit perhatian Anda.
Mencari sisi positf atau melihat dari cara pandang orang lain dari setiap perasaan negatif yang Anda rasakan.
Sulit memang, tetapi Anda bisa berusaha. Salah satunya adalah dengan memunculkan pemikiran yang membuat Anda dapat memaklumi suatu kondisi.
Misalnya, jika seseorang menyalip Anda (seperti yang saya alami), maka munculkanlah pemikiran bahwa, orang tersebut sangat terburu-buru, mungkin ada seseorang dalam mobilnya yang sakit dan harus sampai di rumah sakit dengan segera, atau mungkin istrinya mau melahirkan, atau mungkin dia terlambat menghadiri suatu pertemuan paling penting dalam hidupnya, dll.
Atau jika seseorang tiba-tiba menyerobot antrian Anda, munculkanlah pemikiran mungkin orang tersebut sudah mengantri dari kemarin dan belum juga mendapatkan tiket, atau kakinya sedang sakit sehingga tidak kuat berlama-lama berdiri, atau mungkin ....
Tindakan apapun yang Anda lakukan untuk mengurangi perasaan negatif Anda, yang terpenting adalah Anda harus bertanggung jawab terhadap perasaan Anda sendiri dan tidak menyalahkan orang lain. Dan yang pasti melakukannya dengan ikhlas...
Sabar Itu Indah ...
Bersabar diri merupakan ciri orang-orang yang menghadapi pelbagai kesulitan
dengan lapang dada, kemauan yang keras, serta ketabahan yang besar.
Bukan Jakarta namanya kalau tidak macet. Mungkin itu ungkapan yang pas kalau kita terjebak macet di Jakarta. Justru kalau Jakarta lengang, orang malah terheran-heran, kenapa kok tiba-tiba Jakarta jadi sepi? Kalau tidak lagi lebaran ya liburan (sekolah).
Jarak perjalanan saya ke kantor sebenarnya tidak terlalu jauh hanya sekitar 35km sekali jalan, lewat jalan tol setengah, setengahnya lagi jalan biasa (menghindari 3 in 1). Namun cobaan dan ujian kesabaran sepanjang perjalananan terasa lebih jauh dari jarak yang sebanarnya.
Karena masih belum punya asisten yang membantu saya menyetir, maka saya masih harus menyetir sendiri. Teman-teman saya bilang saya termasuk orang yang sabar karena masih bisa menyetir sepanjang 35km yang waktu tempuhnya bervariatif mulai dari 1,5 jam kalau jalan benar-benar lancar sampai 3 jam kalau terjebak macet yang tak berkesudahan. Saya bangga tentunya mendengar ’pujian’ teman-teman tersebut. Tapi jangan salah, saya punya banyak masalah kesabaran sepanjang perjalanan itu.
Masih tentang bahu jalan. Sepertinya saya punya ‘klik’ tersendiri setiap kali memperhatikan bahu jalan
Alhamdulillah, saya bukan termasuk orang yang suka menggunakan bahu jalan jika berjalan di jalan tol, malah bisa dibilang anti. Kalaupun saya tidak menyetir sendiri, maka saya akan bilang ke ’pak sopir’ untuk tidak menggunakan bahu jalan, kecuali dalam kondisi darurat sesuai aturannya.
Manusiawi kalau ada perasaan marah atau jengkel saat ada mobil yang dengan sengaja mendahului dari kiri, atau berjalan lambat di jalur kanan pada saat di jalan tol, atau tiba2 pindah ke lajur dari bahu jalan karena di bahu jalan ada polisi yang sedang patroli. Terus terang saya akan marah juga dengan kejadian-kejadian itu, bahkan seringkali kemarahan saya terbawa terus sepanjang perjalanan saya sampai di kantor. Ujung-ujungnya, sampai kantor saya capek sendiri, capek hati dan capek badan karena tegang terus. Dan kejadian seperti ini tidak sekali-dua kali terjadi, tetapi setiap hari, minimal 3 jam dalam sehari dan 5 hari dalam seminggu.
Bisa anda bayangkan betapa capek badan dan pikiran bila 15 jam dalam seminggu yang kita bawa adalah rasa marah dan jengkel.
Itu yang berlaku pada saya, belum tentu Anda pun merasa demikian untuk kejadian yang sama. Setiap orang memiliki cara yang berbeda2 saat mulai terpancing (ingat artikel saya “Melawan atau Mengarahkan Lawan”) dan mengalami situasi sulit.
Beberapa orang mampu mengelola emosinya dengan baik sehingga mampu memberikan tanggapannya secara produktif dan tidak terpancing. Beberapa lainnya memberikan tanggapannya dengan tidak produktif, seperti saya waktu itu.
Tapi itulah kenyataannya. Setelah sekian lama, baru saya menyadari bahwa kejengkelan dan kemarahan saya itu tidak perlu. Siapa sih yang rugi kalau kita marah dan jengkel ke orang lain? Tak lain dan tak bukan ya diri kita sendiri. Sementara orang lain tetap melaju meninggalkan kita yang bersungut-sungut menahan kesal.
Setiap orang memiliki perasaan yang berbeda-beda saat mengalami seituasi sulit. Hal ini bisa disebabkan oleh latar belakang atau pengalaman yang berbeda.
Misalnya latar belakang keluarga. Seseorang yang terbiasa mendengar suara keras dalam keluarganya, tidak akan terganggu atau biasa saja menghadapi orang yang berteriak2 di dekatnya, tetapi sebaliknya, seseorang yang terbiasa diperlakukan lemah lembut dalam lingkungan keluarga, akan merasa tidak nyaman bila mendengar suara keras sekalipun suara tersebut tidak bermaksud untuk memperlakukan dia secara kasar.
Atau karena pengalaman. Seseorang yang sudah pernah bertemu dengan pelanggan A yang sangat kritis dan cerewet, misalnya, maka terhadap kata-kata pelanggan A yang kritis, dia akan merasa biasa-biasa saja, karena dia sudah sering mengalaminya. Tetapi akan berbeda bila pelanggan A bertemu dengan orang yang baru pertama kali mengenal dia, maka bisa jadi orang tersebut akan bereaksi keras dan membalas kata-kata A yang kritis.
Biasanya Anda melakukan sesuatu sesuai dengan yang Anda rasakan, bila Anda merasa negatif, maka perilaku negatif yang akan Anda perlihatkan. Sebaliknya bila Anda merasa positif, maka perilaku positif yang akan Anda perlihatkan. (bahasa kerennya mungkin LoA ya?)
Berdasarkan pemahaman itu pulalah, dua minggu belakangan ini, saya mencoba untuk mulai belajar bersabar (terlambat? Tidaklah, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar bukan?). Dan latihan pertama saya adalah belajar mengatasi perasaan negatif selama di jalan, walaupun masih banyak hal-hal lain yang membutuhkan latihan kesabaran saya juga.
Ada banyak cara untuk menghindari atau mengatasi perasaan-perasaan negatif. Ada cara-cara negatif, ada pula yang positif.
Yang kita bahas cara-cara yang positif saja, siapa tahu dapat menjadi contoh.
Perubahan fisik
Kadang-kadang Anda mengatakan tidak dapat mengubah perasaan Anda. Cobalah untuk mengubah posisi Anda, berpindah, bergerak, berjalan di tempat, berdiri dari duduk atau sebaliknya. Dalam kasus saya, agak sulit karena dalam kondisi sedang menyetir (mau berjalan-jalan jelas tidak mungkin). Maka perubahan fisik yang bisa Anda lakukan misalnya, mengubah posisi duduk dari bersandar menjadi tegak (atau sebaliknya), posisi pegangan setir yang tadinya memegang penuh secara horisontal di kiri dan kanan, pindahkan ke bawah atau atas salah satunya, atau meletakkan tangan di sandaran tangan untuk beberapa saat.
Perubahan fisik sederhana atau mengganti aktivitas Anda, dapat mengubah perasaan Anda.
Mengalihkan perhatian
Jika distorsi biasanya tidak disarankan pada saat kita fokus pada sesuatu, maka tidak demikian saat Anda mengalami perasaan negatif. Mengalihkan atau memecah perhatian pada hal lain selain perasaan negatif yang Anda alami, dapat mengurangi ‘stres’ Anda. Tentu saja pemecah perhatian Anda adalah sesuatu yang positif.
Anda mungkin bisa menyetel musik favorit Anda agak keras dan ikut bernyanyi atau bila perlu sambil menggerakkan badan Anda sesuai irama musik (Anda tidak perlu khawatir dipertanyakan oleh orang lain apa yang terjadi dengan Anda, karena hal tersebut adalah wajar). Atau Anda bisa makan makanan kecil (ngemil) atau makan permen, karena dengan menguyah, membuat Anda mengalami aktivitas yang berbeda. Rasa yang ditimbulkan oleh makanan atau permen yang Anda kunyah akan membantu mengalihkan sedikit perhatian Anda.
Mencari sisi positf atau melihat dari cara pandang orang lain dari setiap perasaan negatif yang Anda rasakan.
Sulit memang, tetapi Anda bisa berusaha. Salah satunya adalah dengan memunculkan pemikiran yang membuat Anda dapat memaklumi suatu kondisi.
Misalnya, jika seseorang menyalip Anda (seperti yang saya alami), maka munculkanlah pemikiran bahwa, orang tersebut sangat terburu-buru, mungkin ada seseorang dalam mobilnya yang sakit dan harus sampai di rumah sakit dengan segera, atau mungkin istrinya mau melahirkan, atau mungkin dia terlambat menghadiri suatu pertemuan paling penting dalam hidupnya, dll.
Atau jika seseorang tiba-tiba menyerobot antrian Anda, munculkanlah pemikiran mungkin orang tersebut sudah mengantri dari kemarin dan belum juga mendapatkan tiket, atau kakinya sedang sakit sehingga tidak kuat berlama-lama berdiri, atau mungkin ....
Tindakan apapun yang Anda lakukan untuk mengurangi perasaan negatif Anda, yang terpenting adalah Anda harus bertanggung jawab terhadap perasaan Anda sendiri dan tidak menyalahkan orang lain. Dan yang pasti melakukannya dengan ikhlas...
Sabar Itu Indah ...
Bersabar diri merupakan ciri orang-orang yang menghadapi pelbagai kesulitan
dengan lapang dada, kemauan yang keras, serta ketabahan yang besar.
DISIPLIN : orang, pola pikir, tindakan atau budaya?
DISIPLIN : orang, pola pikir, tindakan atau budaya?
“Saat ini sedang dilakukan ‘operasi bahu jalan’ di jalan tol jagorawi, bagi para pengguna jalan tol untuk tidak menggunakan bahu jalan kecuali dalam keadaan darurat.”
Demikian suara penyiar radio yang sedang menyiarkan berita. Saya sedikit heran dengan isi berita tersebut, mengapa harus dilakukan operasi bahu jalan, karena sudah jelas-jelas terpampang rambu di sepanjang jalan tol “dilarang menggunakan bahu jalan kecuali dalam keadaan darurat” atau “bahu jalan hanya untuk keadaan darurat”.
Kalau saya berpikir secara ‘normal’ menurut saya, operasi bahu jalan tidak perlu dilakukan karena alat pemberitahu sudah tersedia dan sosialisasinya pun sudah ada sejak jalan tol tersebut dibangun.
Namun, sebaiknya saya berpikir ‘up-normal’ (sedikit di atas normal) untuk dapat membenarkan tindakan ini, karena dalam kenyataannya, tidak peduli apakah ada rambu atau tidak, tetap saja banyak pengguna jalan tol yang menggunakan bahu jalan untuk melajukan kendaraannya, apakah itu untuk menyalip (dari kiri) ataupun sekedar menghindari kemacetan (kecuali jika ada petugas).
Saya sering tersenyum sendiri dan merasa ‘kasihan’ bila melihat pengguna jalan tol yang dengan arogannya menggunakan bahu jalan, melaju dengan kencang mendahului mobil-mobil yang mengantri di lajur yang benar. Dan senyum saya akan bertambah lebar, saat melihat mereka mencoba menyelip diantara mobil-mobil yang mengantri di lajur kiri, karena, ternyata, di depan mereka, di bahu jalan, terparkir mobil petugas polisi patroli jalan tol. Saya hanya bergumam, “kasihan, mental disiplin mereka hanya sampai segitu.”
Seperti sebuah organisasi, masyakarat kita pun merupakan sebuah organisasi yang memiliki peraturan, kebijakan, ketentuan dan prosedur yang harus ditaati oleh anggotanya. Namun kenyataannya, seberapapun organisasi memiliki peraturan, kebijakan, ketentuan dan prosedur kerja, tidak dapat dipastikan bahwa peraturan, kebijakan dan prosedur kerja tersebut dilaksanakan sesuai sebagaimana yang seharusnya.
Maka wajar bila kemudian organisasi melakukan audit guna memastikan peraturan dan prosedur tersebut dijalankan. Sebagaimana petugas yang berwenang (polisi lalu lintas) melakukan operasi/ pemeriksaan di jalan. Namun bila kita tilik lagi, seberapa sering organisasi melakukan audit, seberapa sering petugas berwenang melakukan operasi/ pemeriksaan, dan bagaimana hasilnya, dari satu pemeriksaan ke periode pemeriksaan berikutnya?
Selalu saja ada bagian dari peraturan atau prosedur yang tidak dijalankan. Mengapa? Secara umum seringkali penyebab utama bukanlah pada alatnya, melainkan karena kurangnya kesadaran untuk melakukan sesuai yang diharuskan, kalaupun dilakukan, seringkali tidak secara konsisten. Sebagian orang melaksanakan kebijakan ataupun prosedur tersebut karena ‘harus’ dan bukan karena kesadaran pentingnya mengapa dilakukan.
Sama seperti yang dilakukan oleh para pengguna jalan tol yang taat peraturan jalan hanya jika ada petugas karena takut kena tilang, bukan karena faktor keselamatan dirinya.
Disiplin yang dipunyai adalah disiplin karena adanya peraturan, kebijakan ataupun prosedur, bukan disiplin karena sesuatu yang diyakini sebagai nilai diri, bukan disiplin karena sesuatu yang menjadi kebiasaan, menjadi budaya.
Jim Collin dalam bukunya ‘Good to Great’ menyatakan, semua organisasi memiliki budaya, beberapa memiliki disiplin, tetapi hanya sedikit yang memiliki “budaya disiplin”.
Budaya disiplin itulah yang mestinya ditanamkan dan dikembangkan dalam organisasi dengan bentuk apapun, sehingga disiplin yang dijalankan adalah merupakan budaya, kebiasaan, standar atau nilai yang diyakini oleh setiap individu dalam organisasi. Bukan sebagai ‘polisi’ atau ‘hukum’ yang menghakimi dan mengadili bila seseorang tidak berlaku disiplin. Disiplin yang seperti ini akan pasang surut seiring dengan penerapan peraturan dan kebijakan dalam organisasi tersebut. Terlebih lagi bila penerapannya tidak konsisten.
(Saya yakin banyak contoh realnya).
Jika Anda memiliki orang yang disiplin, Anda tidak memerlukan hirarki.
Jika Anda memiliki pola pikir yang disipliln, Anda tidak memerlukan birokrasi.
Jika Anda memiliki tindakan yang disiplin, Anda tidak memerlukan pengendalian yang berlebihan.
Jika Anda memiliki budaya disiplin dan etika,
Anda akan menemukan ramuan ajaib untuk menghasilkan kinerja yang hebat.
(Jim Collins)
“Saat ini sedang dilakukan ‘operasi bahu jalan’ di jalan tol jagorawi, bagi para pengguna jalan tol untuk tidak menggunakan bahu jalan kecuali dalam keadaan darurat.”
Demikian suara penyiar radio yang sedang menyiarkan berita. Saya sedikit heran dengan isi berita tersebut, mengapa harus dilakukan operasi bahu jalan, karena sudah jelas-jelas terpampang rambu di sepanjang jalan tol “dilarang menggunakan bahu jalan kecuali dalam keadaan darurat” atau “bahu jalan hanya untuk keadaan darurat”.
Kalau saya berpikir secara ‘normal’ menurut saya, operasi bahu jalan tidak perlu dilakukan karena alat pemberitahu sudah tersedia dan sosialisasinya pun sudah ada sejak jalan tol tersebut dibangun.
Namun, sebaiknya saya berpikir ‘up-normal’ (sedikit di atas normal) untuk dapat membenarkan tindakan ini, karena dalam kenyataannya, tidak peduli apakah ada rambu atau tidak, tetap saja banyak pengguna jalan tol yang menggunakan bahu jalan untuk melajukan kendaraannya, apakah itu untuk menyalip (dari kiri) ataupun sekedar menghindari kemacetan (kecuali jika ada petugas).
Saya sering tersenyum sendiri dan merasa ‘kasihan’ bila melihat pengguna jalan tol yang dengan arogannya menggunakan bahu jalan, melaju dengan kencang mendahului mobil-mobil yang mengantri di lajur yang benar. Dan senyum saya akan bertambah lebar, saat melihat mereka mencoba menyelip diantara mobil-mobil yang mengantri di lajur kiri, karena, ternyata, di depan mereka, di bahu jalan, terparkir mobil petugas polisi patroli jalan tol. Saya hanya bergumam, “kasihan, mental disiplin mereka hanya sampai segitu.”
Seperti sebuah organisasi, masyakarat kita pun merupakan sebuah organisasi yang memiliki peraturan, kebijakan, ketentuan dan prosedur yang harus ditaati oleh anggotanya. Namun kenyataannya, seberapapun organisasi memiliki peraturan, kebijakan, ketentuan dan prosedur kerja, tidak dapat dipastikan bahwa peraturan, kebijakan dan prosedur kerja tersebut dilaksanakan sesuai sebagaimana yang seharusnya.
Maka wajar bila kemudian organisasi melakukan audit guna memastikan peraturan dan prosedur tersebut dijalankan. Sebagaimana petugas yang berwenang (polisi lalu lintas) melakukan operasi/ pemeriksaan di jalan. Namun bila kita tilik lagi, seberapa sering organisasi melakukan audit, seberapa sering petugas berwenang melakukan operasi/ pemeriksaan, dan bagaimana hasilnya, dari satu pemeriksaan ke periode pemeriksaan berikutnya?
Selalu saja ada bagian dari peraturan atau prosedur yang tidak dijalankan. Mengapa? Secara umum seringkali penyebab utama bukanlah pada alatnya, melainkan karena kurangnya kesadaran untuk melakukan sesuai yang diharuskan, kalaupun dilakukan, seringkali tidak secara konsisten. Sebagian orang melaksanakan kebijakan ataupun prosedur tersebut karena ‘harus’ dan bukan karena kesadaran pentingnya mengapa dilakukan.
Sama seperti yang dilakukan oleh para pengguna jalan tol yang taat peraturan jalan hanya jika ada petugas karena takut kena tilang, bukan karena faktor keselamatan dirinya.
Disiplin yang dipunyai adalah disiplin karena adanya peraturan, kebijakan ataupun prosedur, bukan disiplin karena sesuatu yang diyakini sebagai nilai diri, bukan disiplin karena sesuatu yang menjadi kebiasaan, menjadi budaya.
Jim Collin dalam bukunya ‘Good to Great’ menyatakan, semua organisasi memiliki budaya, beberapa memiliki disiplin, tetapi hanya sedikit yang memiliki “budaya disiplin”.
Budaya disiplin itulah yang mestinya ditanamkan dan dikembangkan dalam organisasi dengan bentuk apapun, sehingga disiplin yang dijalankan adalah merupakan budaya, kebiasaan, standar atau nilai yang diyakini oleh setiap individu dalam organisasi. Bukan sebagai ‘polisi’ atau ‘hukum’ yang menghakimi dan mengadili bila seseorang tidak berlaku disiplin. Disiplin yang seperti ini akan pasang surut seiring dengan penerapan peraturan dan kebijakan dalam organisasi tersebut. Terlebih lagi bila penerapannya tidak konsisten.
(Saya yakin banyak contoh realnya).
Jika Anda memiliki orang yang disiplin, Anda tidak memerlukan hirarki.
Jika Anda memiliki pola pikir yang disipliln, Anda tidak memerlukan birokrasi.
Jika Anda memiliki tindakan yang disiplin, Anda tidak memerlukan pengendalian yang berlebihan.
Jika Anda memiliki budaya disiplin dan etika,
Anda akan menemukan ramuan ajaib untuk menghasilkan kinerja yang hebat.
(Jim Collins)
Subscribe to:
Posts (Atom)
