I LOVE EVERYDAY!
I don’t like, itu sudah biasa...
But I love Monday, baru luar biasa...
Jadi ingat status teman di FB-nya pas hari Senin, “Monday syndrome : doing nothing without thinking.”
Lucu. Dan kebanyakan orang, memaklumi kondisi tersebut. Hari Senin, seolah dinobatkan sebagai hari ‘paling tidak disukai’. Padahal hari kerja selalu dimulai dari hari Senin. Atau mungkin justru karena hari itu adalah hari pertama kerja, maka sah-sah saja mendaulat Senin sebagai hari yang menyebalkan karena membuat kita harus ‘mikir’ kembali , membuat kita harus bertemu lagi dengan target-target dan tenggat waktunya yang selama 2 hari ‘berhasil’ kita lupakan.
Tapi itulah, kita tidak dapat melewati hari lain tanpa melewati hari Senin terlebih dahulu, bukan?
Jadi, mau tidak mau, terimalah, hari Senin sebagai hari pertama yang mengawali aktivitas kita. Syndrom ini sudah bukan lagi milik satu-dua orang, tetapi sudah meng-global. Bahkan salah satu lagu ‘barat’ menuliskan dalam syair lagunya “Tell me why I don’t like Monday....I don’t like Monday.....I don’t like........”, artinya sudah sebegitu meresapnya hari Senin sebagai hari yang paling tidak disukai tadi.
Didukung lagi dengan kondisi yang ada di sekitar kita bila hari Senin datang, jalanan lebih macet daripada hari-hari lainnya, pekerjaan lebih padat, dan suasana hati lebih cepat terbawa emosi. Kenapa ya? Apa yang salah dengan hari Senin??
Tentu saja tidak ada yang salah dengan si ‘Senin’, yang salah adalah paradigma kita, persepsi kita, pola pikir kita dalam menyikapi hari Senin.
Sebaliknya, mengapa kita begitu menggilai hari Jum’at, sampai-sampai muncul istilah TGIF (Thanks God It’s Friday) yang berlaku global. Di Indonesia sendiri mungkin tidak terlalu berlaku nasional karena tidak semua sekolah atau kantor libur pada hari Sabtu, jadi mereka belum bisa mengatakan “Thanks God It’s Friday” karena besoknya masih harus bergulat dengan pekerjaan rutin mereka.
Bahkan hari Jum’at malam (Friday night) juga dideklarasikan oleh sebagian ABG (anak baru gede = remaja) sebagai hari gaul nasional (menurut istilah mereka). Tidak hanya ABG malah, para profesional muda pun secara sadar ataupun tidak sadar telah menetapkan hari Jum’at sebagai hari bergabung (awas salah baca berkabung). Karena pada hari itu, mereka merasa berhak atas pulang lebih larut karena tidak harus bangun pagi keesokan harinya.
Hari Jum’at juga identik dengan hari “bebas”. Banyak perusahaan yang menerapkan hari Jum’at sebagai hari ‘bebas’ seragam atau bebas kostum. Artinya, karyawan dibebaskan untuk mengenakan pakaian kerja yang ‘lebih santai’ dari biasanya tetapi tetap profesional. Atau menetapkan seragam ‘batik’ pada hari Jum’at, ada yang batiknya seragam, ada juga yang bebas....tetap identik dengan kebebasan.
Sama dengan hari Senin (walaupun berbeda nasib), hari Jum’at juga didukung oleh kondisi di sekitar kita. Selain jalanan yang macet terutama setelah jam kantor reguler (setelah jam 18.00WIB), maka dapat dipastikan, setiap Jum’at malam, tidak ada satu mal pun yang tidak penuh, dipadati oleh mereka yang mau ‘merayakan’ hari Jum’at malam.
Mengapa begitu ya?
Mungkin inilah yang harus kita ubah. Mestinya istilah TGIF berlaku juga untuk hari-hari yang lain. Ada TGIM (Thanks God It’s Monday), TGIT (Thanks God It’s Tuesday), TGIW (Thanks God It’s Wednesday),..............dan seterusnya. Karena setiap hari adalah hari yang patut kita syukuri. Setiap hari adalah hari baru yang selalu penuh berkah Allah bagi kita. Dan Allah telah membagi rizkinya di setiap hari yang ada. Tidak ada yang namanya “hari baik”, karena semua hari adalah baik, di dalam setiap ‘hari’ terkandung berkah Allah, dan setiap ‘hari’ bisa mendatangkan keberhasilan, tidak peduli apakah itu hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu ataupun Minggu.
Jadi, jika siklus hari kerja kita anti klimaks,
Saatnya berubah! Sekarang!
• Bersiap memulai hari sejak dari malam sebelumnya.
• Jika kita sanggup untuk bangun lebih pagi dari biasanya, mari kita lakukan!
• Bangun tidur, sempatkan sejenak untuk berdoa, mensyukuri hidup yang diberikan olehNya hari ini.
• Sarapan yang cukup membantu kita tetap berenergi sampai siang nanti
• Mengawali hari dengan tersenyum
• Apapun yang terjadi dengan hari ini, baik atau buruk, jangan mengeluh. Terima dan nikmati sebisa kita. Yakini bahwa di dalam setiap peristiwa selalu ada hikmahnya.
• Berdoa sebelum memulai aktivitas. Berdoa berarti berserah diri atas apa yang diberikanNya pada hari ini.
I LOVE EVERYDAY!
Monday, March 8, 2010
Karyawan Tetap atau Tetap Karyawan??
KARYAWAN TETAP atau TETAP KARYAWAN?
Bertemu teman lama, kami sempat berbincang tentang kondisi terakhir masing-masing. Dari mulai keluarga, teman-teman yang kami kenal dulu, sampai ke pekerjaan.
Pertanyaan klasik tentunya adalah, “Kerja di mana sekarang?” tanya teman saya. Saya jawab, “Di perusahaan X. Kamu?” Saya balik bertanya. “Saya di bengkel motor” jawab teman saya.
“Haa...??” respon saya dengan penuh kekagetan, bagaimana mungkin, teman saya yang notabene adalah sarjana S1 di bidang ilmu pasti kok jadi nyasar ke bengkel (walaupun saya sendiri sekarang termasuk salah satu yang “nyasar”.
“Bengkel mana” lanjut saya lagi. “Ada Motor”, jawabnya singkat. “Kok bisa?” saya masih belum puas.
“Iya, aku buka usaha sendiri, buka bengkel motor. Memang sih, mungkin nggak nyambung dengan pendidikan, tapi aku kan dari dulu suka otomotif. Jadi, sekalian melakukan hobi, tapi menghasilkan uang. Begitu kan?”
Saya terdiam. Kehabisan kata-kata atau istilah kerennya speechless, nggak nyangka ternyata teman saya ini bukan karyawan lagi, tapi ‘punya’ karyawan alias bos! Dan hebatnya lagi, bos dari perusahaannya sendiri. Meskipun bukan perusahaan yang ngetop, tapi toh tetap perusahaan sendiri, milik sendiri, dikelola sendiri dan menghasilkan untuk diri sendiri dan orang lain. Dan yang paling hebatnya adalah, teman saya ini mampu melakukan hobinya sekaligus melakukan pekerjaannya dan menghasilkan uang!
Ck..ck..ck.. hebat...hebat...!
Bukan bermaksud membandingkan keberuntungan diri sendiri dengan orang lain, tetapi saya mencoba bercermin dari pengalaman teman saya tersebut.
Saya yang dari awal bekerja, mulai dari karyawan project bases, karyawan kontrak yang berharap suatu saat diangkat menjadi karyawan tetap, dan pada saat hari pengangkatan menjadi karyawan tetap itu pun ada, ternyata.....sampai sekarang....saya......tetap karyawan.
Tapi, jangan berani-berani membandingkan diri sendiri dengan orang lain kecuali Anda siap bergerak untuk menjadi yang lebih baik dari diri Anda sekarang, karena bila tidak, maka Anda telah merendahkan diri sendiri.
Saya pun akhirnya tergerak untuk menjadi seperti teman saya itu. Saya mulai mencoba menggali potensi yang ada dalam diri saya yang selama ini mungkin terkungkung di dalam diri karena keterbatasan waktu maupun kesempatan, dan menunggu waktu untuk dieksplor. Saya coba cari dan cari lagi, gali dan gali terus.......
Sampai akhirnya saya bisa menulis seperti ini .....walaupun masih jauh dari sempurna, tapi saya bangga, karena saya mampu menggali potensi saya sekaligus hobi saya dan mempraktekkannya. Kalaupun belum mampu untuk menggerakkan mesin ekonomi saya, paling tidak saya sudah berusaha untuk mulai melepaskan diri menjadi tetap karyawan.....karena saya yakin suatu saat saya akan ‘punya’ karyawan..........
Banyak contoh yang sudah berhasil...............
Pernah nonton acara reality show “Bosan jadi Karyawan”? Lalu, mau jadi apa mereka?
Banyak. Ada yang mau menjadi pengusaha mini market, ada yang mau membuka usaha telekomunikasi (warung telekomunikasi atau warung internet), ada yang mau membuka usaha mini market, ada yang mau buka bengkel, bahkan ada yang mau berjualan burger..............
Intinya adalah ‘MAU’.
Anda bisa menjadi apapun yang Anda inginkan asalkan Anda mau belajar dan berusaha.
Saya yakin, Anda bisa!
Bingung mau mulai dari mana? Jawab dulu pertanyaan ini :
1. Dibidang apa Anda dapat menjadi paling baik, di dunia?
2. Apa yang menggerakkan mesin ekonomi Anda?
3. Apa yang amat Anda minati?
Nah, kalau Anda dapat menjawab ketiga pertanyaan tersebut dalam satu jawaban, maka, itulah saatnya Anda mulai bergerak untuk menjadi diri Anda sendiri yang “HEBAT”.
Ketiga pertanyaan tersebut diatas diistilahkan oleh Jim Collin (penulis buku ‘Good to Great’) sebagai Konsep Landak, dan satu jawaban Anda adalah irisan dari ketiganya.
Bila Anda menghasilkan banyak uang dengan mengerjakan sesuatu yang Anda tidak pernah menjadi yang paling baik, Anda akan SUKSES
Bila Anda menjadi paling baik pada sesuatu tetapi Anda tidak memiliki minat intrinsik atas apa yang Anda lakukan, maka Anda tidak akan pernah tetap berada di puncak.
Bila Anda berminat di suatu bidang, tetapi Anda tidak akan dapat menjadi yang paling baik di bidang tersebut atau tidak memberikan hasil ekonomi yang masuk akal, maka Anda mungkin akan mengalami banyak kegembiraan tetapi tidak membuahkan hasil yang hebat.
Bertemu teman lama, kami sempat berbincang tentang kondisi terakhir masing-masing. Dari mulai keluarga, teman-teman yang kami kenal dulu, sampai ke pekerjaan.
Pertanyaan klasik tentunya adalah, “Kerja di mana sekarang?” tanya teman saya. Saya jawab, “Di perusahaan X. Kamu?” Saya balik bertanya. “Saya di bengkel motor” jawab teman saya.
“Haa...??” respon saya dengan penuh kekagetan, bagaimana mungkin, teman saya yang notabene adalah sarjana S1 di bidang ilmu pasti kok jadi nyasar ke bengkel (walaupun saya sendiri sekarang termasuk salah satu yang “nyasar”.
“Bengkel mana” lanjut saya lagi. “Ada Motor”, jawabnya singkat. “Kok bisa?” saya masih belum puas.
“Iya, aku buka usaha sendiri, buka bengkel motor. Memang sih, mungkin nggak nyambung dengan pendidikan, tapi aku kan dari dulu suka otomotif. Jadi, sekalian melakukan hobi, tapi menghasilkan uang. Begitu kan?”
Saya terdiam. Kehabisan kata-kata atau istilah kerennya speechless, nggak nyangka ternyata teman saya ini bukan karyawan lagi, tapi ‘punya’ karyawan alias bos! Dan hebatnya lagi, bos dari perusahaannya sendiri. Meskipun bukan perusahaan yang ngetop, tapi toh tetap perusahaan sendiri, milik sendiri, dikelola sendiri dan menghasilkan untuk diri sendiri dan orang lain. Dan yang paling hebatnya adalah, teman saya ini mampu melakukan hobinya sekaligus melakukan pekerjaannya dan menghasilkan uang!
Ck..ck..ck.. hebat...hebat...!
Bukan bermaksud membandingkan keberuntungan diri sendiri dengan orang lain, tetapi saya mencoba bercermin dari pengalaman teman saya tersebut.
Saya yang dari awal bekerja, mulai dari karyawan project bases, karyawan kontrak yang berharap suatu saat diangkat menjadi karyawan tetap, dan pada saat hari pengangkatan menjadi karyawan tetap itu pun ada, ternyata.....sampai sekarang....saya......tetap karyawan.
Tapi, jangan berani-berani membandingkan diri sendiri dengan orang lain kecuali Anda siap bergerak untuk menjadi yang lebih baik dari diri Anda sekarang, karena bila tidak, maka Anda telah merendahkan diri sendiri.
Saya pun akhirnya tergerak untuk menjadi seperti teman saya itu. Saya mulai mencoba menggali potensi yang ada dalam diri saya yang selama ini mungkin terkungkung di dalam diri karena keterbatasan waktu maupun kesempatan, dan menunggu waktu untuk dieksplor. Saya coba cari dan cari lagi, gali dan gali terus.......
Sampai akhirnya saya bisa menulis seperti ini .....walaupun masih jauh dari sempurna, tapi saya bangga, karena saya mampu menggali potensi saya sekaligus hobi saya dan mempraktekkannya. Kalaupun belum mampu untuk menggerakkan mesin ekonomi saya, paling tidak saya sudah berusaha untuk mulai melepaskan diri menjadi tetap karyawan.....karena saya yakin suatu saat saya akan ‘punya’ karyawan..........
Banyak contoh yang sudah berhasil...............
Pernah nonton acara reality show “Bosan jadi Karyawan”? Lalu, mau jadi apa mereka?
Banyak. Ada yang mau menjadi pengusaha mini market, ada yang mau membuka usaha telekomunikasi (warung telekomunikasi atau warung internet), ada yang mau membuka usaha mini market, ada yang mau buka bengkel, bahkan ada yang mau berjualan burger..............
Intinya adalah ‘MAU’.
Anda bisa menjadi apapun yang Anda inginkan asalkan Anda mau belajar dan berusaha.
Saya yakin, Anda bisa!
Bingung mau mulai dari mana? Jawab dulu pertanyaan ini :
1. Dibidang apa Anda dapat menjadi paling baik, di dunia?
2. Apa yang menggerakkan mesin ekonomi Anda?
3. Apa yang amat Anda minati?
Nah, kalau Anda dapat menjawab ketiga pertanyaan tersebut dalam satu jawaban, maka, itulah saatnya Anda mulai bergerak untuk menjadi diri Anda sendiri yang “HEBAT”.
Ketiga pertanyaan tersebut diatas diistilahkan oleh Jim Collin (penulis buku ‘Good to Great’) sebagai Konsep Landak, dan satu jawaban Anda adalah irisan dari ketiganya.
Bila Anda menghasilkan banyak uang dengan mengerjakan sesuatu yang Anda tidak pernah menjadi yang paling baik, Anda akan SUKSES
Bila Anda menjadi paling baik pada sesuatu tetapi Anda tidak memiliki minat intrinsik atas apa yang Anda lakukan, maka Anda tidak akan pernah tetap berada di puncak.
Bila Anda berminat di suatu bidang, tetapi Anda tidak akan dapat menjadi yang paling baik di bidang tersebut atau tidak memberikan hasil ekonomi yang masuk akal, maka Anda mungkin akan mengalami banyak kegembiraan tetapi tidak membuahkan hasil yang hebat.
Apa Motivasi Anda?
APA MOTIVASI ANDA?
Kalau saya tanyakan kepada Anda, apa motivasi Anda bekerja, pasti saya akan memperoleh jawaban yang beragam, bergantung pada usia Anda, status Anda, apakah single, double atau triple..., pekerjaan Anda sekarang pekerjaan yang ke berapa, dan sebagainya.
Kalau begitu saya akan mulai dari, saat Anda ‘fresh gradute’, pada saat Anda melamar di suatu perusahaan, maka mereka akan bertanya, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Maka biasanya jawaban Anda sebagai seorang ‘freshgradute’ adalah, “Mencari pengalaman.”
Dan Anda pun diterimalah.....
Setahun, dua tahun, bahkan mungkin tiga tahun, pengalaman sudah Anda peroleh, Anda pun pindah kerja. Saat melamar di perusahaan baru mereka menanyakan lagi, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Jawaban Anda bukan mencari pengalaman lagi kan? Mungkin kali ini Anda mulai mencari kompensasi yang lebih tinggi. Dan Anda diterima dengan kompensasi seperti yang Anda harapkan.
Setahun, dua tahun, tiga tahun, kemudian, Anda mencari pekerjaan baru lagi. Pertanyaan yang sama diajukan kepada Anda, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Pasti jawaban Anda bukan lagi kedua jawaban diatas. Mungkin kali ini, Anda mencari karir yang lebih baik, karena di perusahaan sebelumnya posisi Anda selama 3 tahun tidak ada tanda-tanda perubahan.
Mendapat karir yang bagus di perusahaan baru, setahun, dua tahun, tiga atau empat tahun kemudian, Anda mencari pekerjaan baru lagi. Masih pertanyaan sama yang diajukan, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Apa jabawan Anda kali ini? Mendapat pengalaman sudah, kompensasi yang sesuai sudah, karir sudah, apalagi?
Siklus ini akan terus berlangsung. Dan berdasarkan hasil survey, jawaban atas pertanyaan “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?” pada akhirnya akan memberikan informasi mengenai hal yang paling dicari atau yang paling penting bagi karyawan dalam bekerja, yaitu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work life/ personal balance, yang berdasarkan hasil survey ada 46.53% responden menyatakan demikian. Faktor lain adalah lingkungan kerja yang menyenangkan atau pleasant working environment, yang dinyatakan oleh 30.09% responden. (hasil survey Hay Consultant tahun 2005).
Lebih jauh dalam survey tersebut juga disampaikan, bahwa 89.35% responden menyatakan setuju atas pernyataan, “Saya yakin bahwa kontribusi saya dihargai oleh atasan saya”.
dan 78.47% responen setuju dengan pernyataan “Saya menunggu waktu dimana pekerjaan saya diakui dan memperoleh pengakuan.”
Artinya, akan sampai di suatu titik dimana Anda tidak lagi mencari bentuk tangible dari suatu pekerjaan, tetapi lebih kepada hal yang bersifat ‘sesuatu yang Anda rasakan’. Yang lebih bernilai dari sekedar kompensasi atau karir.
Contoh kecil misalnya, Anda yang terbiasa mempunyai hari kerja Senin sampai Jum’at, akan berpikir dua kali untuk menerima tawaran kerja baru dengan hari kerja Senin sampai Sabtu, karena Anda sudah terbiasa menikmati keseimbangan hidup Anda dengan meluangkan waktu hari Sabtu untuk keluarga, dan itu akan mempengaruhi pola hidup Anda, baik secara profesional maupun personal.
Jika Anda seorang karyawan, apapun motivasi Anda, pilihlah yang terbaik bagi Anda. Jangan mudah tergiur oleh hal-hal yang bersifat tangible, karena saya yakin motivasi tersebut tidak akan bertahan lama. Jika ‘tangible’ benefit yang Anda kejar, maka petualangan mencari kerja Anda tidak akan pernah berakhir. Saya tidak bermaksud menyamaratakan motivasi Anda dengan pencari kerja lainnya. Semua bergantung pada orientasi dan tujuan hidup Anda masing-masing tentunya. Namun saya yakin, tujuan Anda suatu saat akan bermuara pada faktor-faktor yang bersifat intangible tersebut.
Jika Anda seorang pemimpin, maka pastikanlah bahwa Anda adalah orang pertama yang memberi selamat kepada anak buah Anda atas prestasi mereka. Pertahankan mereka dan jangan biarkan mereka berpindah ke lain hati hanya karena tidak mendapatkan perhatian dan penghargaan dari Anda. Dan kalaupun akhirnya mereka pindah kerja, pastikan bahwa itu bukan karena Anda, ‘bos’nya...
Jika Anda seorang pimpinan puncak suatu organisasi (baca: perusahaan), maka pastikanlah organisasi Anda memiliki sistem penghargaan yang terstruktur yang mampu menilai kontribusi karyawan sesuai tingkatannya, dan pastikan Anda dan tim manajemen Anda mampu menciptakan iklim organisasi yang mendukung terciptanya lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan bagi karyawan Anda di semua tingkatan.
Kalau saya tanyakan kepada Anda, apa motivasi Anda bekerja, pasti saya akan memperoleh jawaban yang beragam, bergantung pada usia Anda, status Anda, apakah single, double atau triple..., pekerjaan Anda sekarang pekerjaan yang ke berapa, dan sebagainya.
Kalau begitu saya akan mulai dari, saat Anda ‘fresh gradute’, pada saat Anda melamar di suatu perusahaan, maka mereka akan bertanya, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Maka biasanya jawaban Anda sebagai seorang ‘freshgradute’ adalah, “Mencari pengalaman.”
Dan Anda pun diterimalah.....
Setahun, dua tahun, bahkan mungkin tiga tahun, pengalaman sudah Anda peroleh, Anda pun pindah kerja. Saat melamar di perusahaan baru mereka menanyakan lagi, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Jawaban Anda bukan mencari pengalaman lagi kan? Mungkin kali ini Anda mulai mencari kompensasi yang lebih tinggi. Dan Anda diterima dengan kompensasi seperti yang Anda harapkan.
Setahun, dua tahun, tiga tahun, kemudian, Anda mencari pekerjaan baru lagi. Pertanyaan yang sama diajukan kepada Anda, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Pasti jawaban Anda bukan lagi kedua jawaban diatas. Mungkin kali ini, Anda mencari karir yang lebih baik, karena di perusahaan sebelumnya posisi Anda selama 3 tahun tidak ada tanda-tanda perubahan.
Mendapat karir yang bagus di perusahaan baru, setahun, dua tahun, tiga atau empat tahun kemudian, Anda mencari pekerjaan baru lagi. Masih pertanyaan sama yang diajukan, “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?”
Apa jabawan Anda kali ini? Mendapat pengalaman sudah, kompensasi yang sesuai sudah, karir sudah, apalagi?
Siklus ini akan terus berlangsung. Dan berdasarkan hasil survey, jawaban atas pertanyaan “Mengapa Anda melamar di perusahaan ini?” pada akhirnya akan memberikan informasi mengenai hal yang paling dicari atau yang paling penting bagi karyawan dalam bekerja, yaitu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work life/ personal balance, yang berdasarkan hasil survey ada 46.53% responden menyatakan demikian. Faktor lain adalah lingkungan kerja yang menyenangkan atau pleasant working environment, yang dinyatakan oleh 30.09% responden. (hasil survey Hay Consultant tahun 2005).
Lebih jauh dalam survey tersebut juga disampaikan, bahwa 89.35% responden menyatakan setuju atas pernyataan, “Saya yakin bahwa kontribusi saya dihargai oleh atasan saya”.
dan 78.47% responen setuju dengan pernyataan “Saya menunggu waktu dimana pekerjaan saya diakui dan memperoleh pengakuan.”
Artinya, akan sampai di suatu titik dimana Anda tidak lagi mencari bentuk tangible dari suatu pekerjaan, tetapi lebih kepada hal yang bersifat ‘sesuatu yang Anda rasakan’. Yang lebih bernilai dari sekedar kompensasi atau karir.
Contoh kecil misalnya, Anda yang terbiasa mempunyai hari kerja Senin sampai Jum’at, akan berpikir dua kali untuk menerima tawaran kerja baru dengan hari kerja Senin sampai Sabtu, karena Anda sudah terbiasa menikmati keseimbangan hidup Anda dengan meluangkan waktu hari Sabtu untuk keluarga, dan itu akan mempengaruhi pola hidup Anda, baik secara profesional maupun personal.
Jika Anda seorang karyawan, apapun motivasi Anda, pilihlah yang terbaik bagi Anda. Jangan mudah tergiur oleh hal-hal yang bersifat tangible, karena saya yakin motivasi tersebut tidak akan bertahan lama. Jika ‘tangible’ benefit yang Anda kejar, maka petualangan mencari kerja Anda tidak akan pernah berakhir. Saya tidak bermaksud menyamaratakan motivasi Anda dengan pencari kerja lainnya. Semua bergantung pada orientasi dan tujuan hidup Anda masing-masing tentunya. Namun saya yakin, tujuan Anda suatu saat akan bermuara pada faktor-faktor yang bersifat intangible tersebut.
Jika Anda seorang pemimpin, maka pastikanlah bahwa Anda adalah orang pertama yang memberi selamat kepada anak buah Anda atas prestasi mereka. Pertahankan mereka dan jangan biarkan mereka berpindah ke lain hati hanya karena tidak mendapatkan perhatian dan penghargaan dari Anda. Dan kalaupun akhirnya mereka pindah kerja, pastikan bahwa itu bukan karena Anda, ‘bos’nya...
Jika Anda seorang pimpinan puncak suatu organisasi (baca: perusahaan), maka pastikanlah organisasi Anda memiliki sistem penghargaan yang terstruktur yang mampu menilai kontribusi karyawan sesuai tingkatannya, dan pastikan Anda dan tim manajemen Anda mampu menciptakan iklim organisasi yang mendukung terciptanya lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan bagi karyawan Anda di semua tingkatan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
