Tuesday, February 23, 2010

TRANSPARAN.....

TRANSPARAN .....


”Maksudnya apa sih, kalau ngomong yang transparan dong.....”

Itu kata-kata saya ketika sedang ngobrol dengan seorang teman karena teman tersebut berbicara tidak jelas maksudnya (menurut saya).
Teman saya malah balik bertanya, ”Transparan? Maksudnya? Memang transparan itu menurut kamu yang bagaimana?”

Transparan itu ya..... yang jelas, jadi kalau mau bilang ”A” ya ”A” tidak usah bilang, ”salah satu huruf vokal yang hampir selalu ada dalam setiap kata.....”
Saya kan terpaksa mikir lagi, huruf vokal ada 5 (a, i, u, e, o), hampir semuanya selalu dipakai dalam kata, tetapi ternyata yang paling sering dipakai adalah huruf ”a” tadi.

Artinya, kalau teman saya tadi ngomongnya ’transparan’, saya akan mengerti lebih cepat, ga usah pakai mikir lagi......

Namun tidak demikian menurut pendapat teman saya. Tranparan bukan berarti kita dapat melihat atau memahami dengan jelas apa yang sedang terjadi.
Dia mengumpamakan sebuah kaca bening dengan sebuah kain kasa tipis. Transparan bukan berarti kita dapat melihat apa yang berada di balik kaca bening sampai sedetil-detilnya, tetapi transparan adalah kita tahu apa yang berada di balik kain kasa tipis; tahu dan memahami yang terjadi, tetapi tidak sampai detil.

Karena saya masih bingung dengan penjelasannya, maka teman saya kembali memberikan perumpamaan. Pernah lihat kamar mandi yang memakai penutup kaca buram kan? Nah, pada saat seseorang berada dibilik kamar mandi yang berkaca buram tersebut, maka kita dapat mengatakan bahwa kita dapat melihat orang tersebut secara ’transparan’.
Artinya, kita tahu bahwa ada orang di dalam bilik kamar mandi, dan orang itu sedang melakukan serangkaian aktivitas mandi, tetapi kita tidak tahu apakah dia sedang mengguyur badannya, atau sedang memakai shampo atau sedang mengeringkan badannya dengan handuk; itulah makna transparan versi teman saya tadi.

Akan berbeda ceritanya kalau kaca yang menutupi kamar mandi tadi adalah kaca bening, maka bukan transparan lagi namanya .....

Analogi yang ingin saya bawa adalah, seringkali kita mempertanyakan apakah sistem dalam organisasi kita transparan atau tidak. Dalam persepsi kita sistem yang transparan adalah yang dapat kita lihat dengan jelas, setiap orang tahu detilnya dan bagaimana cara kerjanya.
Sehingga banyak organisasi yang menganggap bahwa transparansi akan mengganggu ”stabilitas nasional” kantor.....

Misalnya dalam sistem penggajian. Seringkali karyawan menginginkan sistem penggajian yang ”transparan”. Dan oraganisasi mengatakan bahwa organisasi belum bisa menerapkan sistem yang transparan karena takut terjadi kesenjangan karena keterbukaan tersebut. Padahal transparan kan bukan berarti membuka lebar-lebar sistem yang ada untuk diketahui oleh seluruh karyawan, tetapi dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang matriks penggajian yang ada, range yang tersedia -minimum-medium-maksimum-, keterkaitannya dengan ’grade’ bila ada, dan sebagainya.
Karyawan yang cerdas tentu saja akan berusaha mengetahui lebih jauh untuk memahami sistem yang diterapkan oleh organisasinya, bahkan bisa jadi membuat analisa sendiri karena sistem tidak membukanya sampai ke sana. Hal ini wajar, selama organisasi mampu mengantisipasinya dengan menyiapkan penjelasan-penjelasan dengan ’bahasa’ karyawan dan bukan bahasa sistem.

Mungkin contoh saya terlalu ekstrim. Tapi bisa jadi itu fakta. Ada karyawan yang merasa tiap tahun kenaikan gajinya kok seret, usut punya usut, ternyata gajinya sudah mentok di range maksimum, sementara kalau mau naik gaji lagi karyawan tersebut harus naik ’grade’, sementara organisasi menerapkan sistem ”performance evaluation” untuk naik ’grade’, sementara (lagi) ’performance’ si karyawan tidak hebat-hebat amat........ lalu... apa kata karyawan...???

Semoga bermanfaat.

Sebenarnya semua uraian di atas berawal dari hasil pemikiran teman saya tersebut tentang ”transparan”, namun saya terpancing untuk menguraikannya lebih lanjut....
Terima kasih untuk obrolannya teman......

No comments: